Translate

Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Monday, 15 April 2013

Hukuman Yang Berat (Cerpen)

Bel masuk baru saja berbunyi, tanda jam pertama akan dimulai. Di dalam kelas 5A, tampak wajah anak – anak tampak tegang , bercampur rasa cemas.
“ Tampangmu kusut amat Wan? Kenapa? Takut ya hasil ulangan matematikanya jelek? “ Celetuk Amir dari belakang, Wandi mengiyakan. Ya jam pertama ini adalah pelajaran matematika, dan hari ini akan dibagi hasil tes matematika yang beberapa hari lalu kelas Wandi ikutin, pantas saja anak – anak tampak tegang, mereka kuatir akan hasil tes matematika mereka, hanya beberapa anak yang tampak percaya diri.
“ Iya nih Mir, kamu tahukan kalau tes matematikaku kadang bagus, kadang juga jelek, dan tes kemarin aku hanya sanggup menyelesaikan 6 soal dengan baik dari 10 soal yang diberikan, sisanya ga yakin aku. “ Sahut Wandi
“ Mending kamu Wan, aku malah pasrah , hanya 4 nomor aja yang bisa kukerjakan, dan yakin benar. “ Sahut Acan, tampak  benar kalau dia gugup banget. “ Ah kayaknya hari ini jatah mainku bakal dipotong lagi. “ Katanya lagi

Wandi, dan Amir tertawa. Saat itu juga Pak Sapta, guru matematika mereka masuk.
“ Selamat pagi anak – anak !”
“ Selamat pagi Pakkkk!!” Jawab anak – anak serentak
“ Baiklah anak – anak, Bapak akan bagi hasil tes kalian, yang namanya disebut harap maju mengambil kertas hasil tesnya. “ Kata Pak Sapta

Kemudian Pak Sapta mulai memanggil satu –persatu, anak – anak yang dipanggil maju mengambil hasil tes mereka dengan gugup, ada yang yang berteriak kecil “Yesss”, ada yang diam saja, dan ada juga yang kecewa berat karena hasilnya tidak sesuai dengan perkiraan.
“ Gimana Wan? Dapat berapa kamu? “ Tanya Amir
“ Yaa lumayan, 7 lebih baik dari yang kukira, nomor 8, dan nomor 9 walau ga sepenuhnya betul, diberi nilai nilai setengah oleh Pak Sapta.
“ Kata Wandi tersenyum puas “ Kamu sendiri gimana Mir?
“ Ya ga jeleklah, aku dapat 6. “Sahut Amir
“ Kamu dapat berapa Can? “ tanya Wandi pada Acan yang baru saja mengambil hasil tesnya, terlihat bener wajah Acan cemberut
“ Gagal total, tapi lebih  barik dari yang kukira, aku dapat 5. “Kata Acan

Beberapa saat kemudian pak Sapta hampir selesai membagikan hasil tes, masih terlihat ada 2 lembar dipegang pak Sapta, dan sekarang pak Sapta pasang tampang tegas memanggil 2 orang terakhir
“ Hadi, dan Erik silakan maju ke depan.”
Keduanya maju ke depan, tapi agak kaget soalnya Pak Sapta tiba – tiba memanggil dengan nada cukup tinggi, sampai di depan kelas, Pak Sapta memandangi mereka berdua gantian.
“ Kalian berdua mendapat nilai yang sama 8..... tapi itu bukan hal yang aneh, yang membuat saya bertanya- tanya adalah jawaban kalian semua sama, yang benar maupun yang salah, bahkan sampai angka – angkanya semua sama.” Pak Sapta berhenti , dia memandang Hadi, dan Erik bergantian menunggu jawaban dari mereka berdua, tapi keduanya masih terdiam
“ Hal ini hampir mustahil terjadi 2 lembar kertas tes, dari 2 orang berbeda mempunyai jawaban yang sama persis, dan bukan hanya jawaban yang benar bahkan jawaban yang salah dan langkah – langkahnya semua sama. Kecuali.... kalian bekerja sama atau salah satu diantara kalian ada yang mencontek. “ Kata Pak Sapta dengan nada meninggi, tatapannya menjadi lebih tajam, menatap Erik, dan Hadi.
Seluruh kelas langsung ribut, dan berbisik – bisik.
“Lebih baik kalian mengaku sekarang, dan Bapak akan maafkan, dan hukumannya  tes ulang, tapi nilai maksimal hanya 6. “ Kata Pak Sapta lebih tenang
“ Bukan saya Pak, tuh Erik yang mencontek saya. “ Hadi menuduh Erik, Erik jelas tidak terima, ia kemudian mendorong Hadi
“ Enak saja, kamu kali yang mencontek, aku belajar semalaman, ngapain aku nyontek. “ Erik membela diri
“ Bukan hanya kamu yang belajar semalaman, aku juga. “ Kata Hadi tak mau kalah.

Anak – anak di kelas masih ribut dan berbisik – bisik dugaan mereka, Hadi dan Erik duduk sebelahan, jadi sangat memungkinkan salah satu dari mereka mencontek yang lain. Wandi juga menduga – duga siapa yang mencontek tapi, tanpa petunjuk dia hanya bisa menduga – duga. Tiba – tiba Sherly berdiri, sambil mengacungkan jari, mungkinkah dia mengetahui siapa yang mencontek?
“ Ya Sherly ada apa?” Tanya Pak Sapta
“ Begini Pak, kenapa kita tidak minta bantuan Wandi dalam memecahkan masalah ini? Mungkin dia bisa mengetahui siapa yang mencontek “ Usul Sherly, Sherly pernah dibantu Wandi dalam memecahkan kasus perhiasannya yang hilang, tapi itu kebetulan saja Wandi mendapat petunjuk, kalau mencontek? Dapat petunjuk darimana? Kejadiannya juga sudah berlangsung beberapa hari yang lalu.
“ Wandi? “ Kata Pak Sapta menimbang – nimbang
“Ya Pak, Beberapa waktu lalu Wandi berhasil membantu saya dalam menemukan siapa yang mencuri perhiasan saya di rumah. “ Kata Sherly lagi.
Pak Sapta berpikir sejenak

“ Hmm baiklah, Wandi , coba kamu bantu Bapak. “ Kata Pak Sapta, Wandi tidak bisa menolak lagi, dia mencoba apa yang bisa dia lakukan, satu – satunya bukti yang tersisa hanya kertas tes mereka. Hadi, dan Erik pasang tampang galak pada Wandi, maksudnya jelas, kalau masing – masing berharap tidak dituduh oleh Wandi. Anak – anak yang lain mulai tenang, mereka menunggu aksi Wandi, apa sepintar yang diceritakan oleh Sherly ? atau hanya kebetulan saja.
“ Maaf Pak bisa saya melihat kertas tes mereka berdua? “ Pinta Wandi, Pak Sapta mempersilakan Wandi melihat kertas tes Hadi, dan Erik. Wandi memperhatikan baik – baik kedua kertas tes itu mungkin saja dia mendapat petunjuk. Kedua lembar tes itu sesuai yang dikatakan Pak Sapta sebelumnya, isinya sama, dari soal sampai jawaban, semua sama, hanya nama yang tercantum di kertas masing – masing saja berbeda. Wandi kebingungan, dia tidak mendapati petunjuk.
“Hmmm, semua sama, seperti kata Pak Sapta, bahkan angka – angka dan langkah – langkah pengerjaannya semua sama persis. Yang beda hanya tulisan mereka. Tulisan Hadi jauh dari rapi, berbeda dari Erik , tulisannya rapi sekali, seperti anak cewek saja. “ Pikir Wandi, Heii tulisan rapi ini petunjuk yang penting, dia mendapat perbedaan yang sangat menentukan dari kedua kertas tes itu, kemudian dia tersenyum simpul, dan menggaruk -  garuk kepala , kebiasaannya kalau mendapat petunjuk untuk memecahkan kasus.
“Bagaimana Wandi? Kamu menemukan sesuatu? “ Tanya Pak Sapta, Wandi mengangguk, Hadi, dan Erik menunggu dengan was – was, seisi kelas menjadi diam menunggu Wandi buka mulut. Wandi memperlihatkan kedua kertas tes itu lagi pada Pak Sapta
“Bapak lihat kertas tes mereka Pak? Ada perbedaan yang mencolok. “ Kata Wandi

Pak Sapta kebingungan, dia yakin kalau kedua isi kertas tes itu sama, tapi kenapa Wandi mengatakan ada perbedaan yang mencolok.
“ Maksud kamu apa Wan? Isi keduanya sama, tida ada perbedaan seperti yang kamu bilang. “
“ Kalau isinya memang sama Pak, tapi kalau kita lihat penulisannya , maka kita dapat melihat perbedaan yang sangat besar. “ Kata Wandi lagi, Pak Sapta masih belu mengerti maksud Wandi, dia tahu tulisan keduanya memang berbeda, tapi itu hal yang wajar.
“ Begini Pak, kalau saya mengerjakan tes matematika pasti ada coretan – coretan kecil, ato koreksi, apalagi kalau ada jawaban saya yang salah, kecuali saya sangat pandai dan mendapat nilai sempurna, Dan lihat kedua kertas ini Pak, kertas milik Hadi , kerjaannya tidak rapi, banyak coretan dan koreksi dimana – mana, ini wajar, kertas tes saya juga demikian banyak coretan maupun koreksi, dan  Bapak bisa lihat kertas tes anak – anak lain yang tidak mendapat nilai sempurna pasti ada beberapa koreksi jawaban ato coretan – coretan kecil. Dan sekarang kertas tes Erik...rapi sekali, bersih malah bisa dikatakan terlalu bersih, mustahil mengerjakan matematika serapi ini, apalagi kalau ada jawaban yang salah, kecuali.... “

Pak Sapta mengangguk – angguk , dan seisi kelas mengerti apa yang dimaksud Wandi, mustahil mengerjakan matematika selancar itu, kecuali kalau dia hanya menyalin alias mencontek. Erik tercekat dengan penjelasan Wandi, ia ingin memperotes tapi dia tidak dapat menemukan alasan yang dapat membantunya mengelak lagi, dan Hadi tersenyum puas,
“ Terima Kasih Wan, kalau tidak ada kau, mungkin aku masih dituduh mencontek. “
“ Ah, aku hanya membantu sebisaku. “
Pak Sapta juga puas dengan penjelasan Wandi, dan kini Erik hanya terdiam, dia menunggu keputusan hukuman Pak Sapta, kalau tahu kejadian bakal begini , dia pasti bakal mengaku saja tadi, tapi kini semua sudah terlambat , hukuman yang lebih berat sudah menantinya.
Selanjutnya

Tabungan Terkutuk (Cerpen)

Aku masih saja bermalas-malasan hingga pukul 12 siang, televisilah yang memanjakanku dengan acaranya yang membosankan, selain tayangan gosip kawin-cerai selebritis, dari pagi aku telah dicekoki oleh sinetron remaja yang kegiatannya hanya pacaran, dan aku juga telah khatam acara music live tapi sebenarnya lypsing dan konon penontonnya juga dibayar.Untunglah dering handphone mengalihkan perhatianku dari terkaman layar kaca, di handphoneku tertulis nama toddy, rupanya toddy yang meneleponku, ada apa toddy meneleponku siang-siang begini? Sempat terpikir olehku untuk tidak mengangkat telepon dari toddy, karena takut dia akan meminjam uang padaku, tapi itu tidak mungkin, soalnya toddy itu ayahnya kaya, dan belum pernah sekalipun dia terlihat bokek dan meminjam uang padaku, lalu kenapa aku berpikir seperti itu, ahh.. toddy maafkan aku, akku telah berpikir salah tentangmu, semoga toddy bukan cenayang yang bisa membaca pikiran orang lain, dan itu pun tak mungkin, karena seandainya dia cenayang, aku pasti pernah melihatnya di tv, memakai baju hitam, dan meyakinkan orang lain kalau sebenarnya dia tahu kapan kiamat akan datang, huh.. tapi baru aku sadar ternyata yang aku pikirkan dari tadi benar-benar tidak penting, karena yang penting sekarang adalah mengangkat telepon dari toddy.“halo tod, ada apa?” itu aku yang mengangkat telepon dan berbicara kepada toddy“mon, kamu bisa kerumahku gak sekarang?” suara toddy terdengar seperti akan memberi masalah“emang ada apa gitu tod?” aku bertanya kepada dia,kenapa dia menyuruhku datang kerumahnya Seenaknya“pokoknya kesini aja entar aku ceritain dirumah” toddy merayu, tapi aku tidak termakan oleh janji Manisnya“cerita dulu tod, baru aku kesana” aku memaksa toddy bercerita sekarang juga“ayolah mon, pokoknya kesini aja entar aku ceritain dirumah” toddy mengeluarkan rayuannya yang kedua, tapi sayang sekali aku tetap bergeming pada pendirianku, karena aku tahu rayuan kedua toddy kalimatnya sama dengan rayuan yang pertama.“ayolah mon, adikku sudah kusuruh nyiapin es jeruk buat kamu” suara toddy memelas, dan akhirnya Hatiku telah diluluhkan oleh es jeruk“oke tod, sekarang aku kesana, siapin es jeruknya ya?” aku telah sepakat dengannya“oke, ku tunggu kamu di rumahku” toddy berkata seraya menutup teleponnya.*****“CiiiitttTTT…!”“KreeeekkkKKK..!!”“CiitttttTTTTT..!!”Itu bukan suara anak ayam, itu adalah suara roda mobilku yang dihentikan oleh rem, memang dari kemaren rodaku bermasalah, dan belum ada waktu untuk membawanya ke bengkel, tapi walaupun begitu, akhirnya mobil ini telah mengantarkanku kerumah toddy dengan selamat.Aku berjalan melewati pagar rumah toddy, dan kullihat toddy sekarang sedang melamun di depan teras rumahnya, entah apa yang dipikirkan oleh tod sekarang, mungkin dia sedang berkhayal tentang hewan beri-beri yang sedang kawin, atau mungkin dia sedang memikirkan bagaimana caranya mengeluarkan upil dari hidung tanpa memasukkan jari tangan kedalamnya, aku terus saja mengamatinya sambil berjalan ke arah dimana dia berada sekarang.“aiihh, udah datang rupanya kamu, mon” toddy beranjak dari lamunannya dan menyambutku, “aku datang menagih es jeruk yang kamu janjikan, tod” aku berbicara padanya dengan nada yang datar, “aiihhh, bisa aja kamu mon, masalah es jeruk itu sudah beres, vina lagi nyiapin didapur, ayo, sekarang kita ke dalem” dia bicara seraya memasuki rumahnya, dan aku mengikutinya dari belakang,”ini masalahnya mon” dia menunjuk televisi yang ada di ruang tengah rumahnya “tivi ku rusak, padahal besok ada pertandingan sepakbola, aku pengen nonton, mudah-mdahan kamu bisa memperbaikinya.toddy memang sudah mengenalku sejak SMP, sehingga dia tahu kalau aku lulusan SMK elektro, dan aku lumayan bisa memperbaiki alat-alat elektonik."coba tod, kamu nyalakan tivinya, aku mau mendeteksi kerusakannya"sesuai yang aku perintahkan toddy berjalan mendekati televisi dan mengambil kabel televisi tersebut," dari kemaren tivinya gak mau nyala" dia bergumam seraya mencari colokan listrik untuk kabel tv itu, "aihh,, ini rupanya" lagi-lagi toddy bergumam sendiri, lalu dia memasukkan kabel tv tersebut kedalam colokan listrik,tak lama kemudian ia berterriak" aaAAhhHH..!! SIALAN..!!!, dia membantingkan tubuhnya ke lantai, beruntung toddy tidak terbentur mengenai sofa di dekatnya, aku tekejut melihat toddy "kenapa kau tod? berteriak kayak orang kesurupan" aku masih bengong menatapnya, lalu kemudian ia terbangun dari lantai seraya berkata "GUE KESETRUM BEGO..!
Selanjutnya

Absen Nomor 13 (Cerpen)

Derap lagkah seorang gadis memecah keheningan malam itu. Seakan tak mempedulikan hujan yang dari tadi mengguyurnya, gadis itu terus berlari seakan dikejar-kejar oleh setan. Tetapi yang namanya manusia pasti mempunyai batas, begitu pula dengan gadis itu yang sepertinya mulai kehabisan napas. Ia berhenti sejenak di bawah pohon untuk mengatur napasnya yang memburu. Sayangnya tidak lama kemudian, muncul segerombol orang yang ternyata mengejarnya dari tadi. Ketika sampai, orang-orang tersebut justru memukuli si gadis. Bukan hanya dipukuli, tetapi juga ditampar, ditendang, bahkan dilecehkan. Akhirnya gadis itu tidak sanggup lagi, ia memejamkan matanya pasrah dan meregang nyawa.

Beberapa tahun kemudian.........
Jam pertama di kelas IX-I SMP N 1 Bimasakti di awali oleh perkenalan seorang siswi baru. Pak Beno, guru mata pelajaran pertama mempersilahkan siswi barunya itu untuk memperkenalkan dirinya.
“Selamat pagi semua!!” Sapa siswi baru itu.
“Pagi!!!” Balas semua anak yang ada di kelas IX-I.
“Perkenalkan, nama saya Lena, saya pindahan dari SMP N 2 Tunas Emas, semoga kita dapat berteman baik,” Katanya sambil tersenyum ramah.
“Baiklah, Lena, kau boleh duduk di bangkumu sekarang,” Kata Pak Beno, mempersilahkannya untuk duduk. Lena pun duduk di salah satu bangku yang belum terisi. Lalu Pak Beno mulai mengabsen mereka. Ketika Pak Beno mulai membuka absent, anak-anak di kelas mulai gelisah, seperti ada sesuatu yang membuat mereka cemas.
“Alfin!” Pak Beno mulai memanggil nama muridnya satu persatu.
“Hadir!”
“Anas!!”
“Hadir, Pak!” Pak Beno terus memanggil, sampai akhirnya di urutan yang ke-13, entah kenapa seisi kelas langsung menegang. Mereka semua menunggu nama anak yang akan dipanggil oleh Pak Beno selanjutnya.
“Lena!!!”
“Hadir, Pak!!” Balas Lena. Tetapi tiba-tiba, seisi kelas langsung menatap gadis itu dengan tatapan ngeri. Lena mengernyitkan dahinya bingung. Linda dan Samuel yang duduk di dekatnya langsung menggeser bangku dan meja mereka jauh-jauh dari Lena. Lena menatap teman-temannya dengan tatapan tidak mengerti. Kenapa sih dengan mereka?? Batinnya.

Saat jam istirahat, Lena yang sedang berjalan-jalan di koridor kelas, tiba-tiba menginjak sebuah kulit pisang lalu terpeleset dan terjatuh. Bukannya menolong, teman-teman Lena malah mengerumuninya dan menatapnya dengan pandangan ngeri. Lena buru-buru bangkit dan langsung pergi dari tempat itu.
Jam ketiga adalah jam olahraga, dan materi olahraga mereka kali ini voli. Entah sudah berapa kali tadi wajah Lena terkena lemparan bola. Bahkan saat bertanding, salah seorang teman Lena men-smash bola dan tepat menganai wajah Lena. Hidung Lena mengeluarkan darah dan dia pingsan.

Lena tersadar di ruang UKS. Ia melihat seorang perawat yang kebetulan berada di ruangan itu. “Mbak...,” Panggilnya pelan. Perawat itu mendengar suara Lena dan langsung menoleh ke tempat sumber suara.
“Eh... Adek sudah sadar!” Ucap perawat itu girang. Ia bangkit dari tempat duduknya dan membawakan Lena nampan berisi semangkuk bubur dan segelas air putih. “Makan dulu ya,” Kata perawat itu sambil meletakkan nampannya di meja sebelah tempat tidur Lena.
“Ah, iya, terima kasih...,” Balas Lena, sambil berusaha tersenyum.
“Adek tadi pingsan, untung beberapa teman adek langsung cepat melaporkannya,” Cerita perawat itu. Lena teringat kejadian saat bermain voli tadi. Iya, dia memang pingsan, tetapi bukan karena terkena smash, melainkan karena sesuatu yang lain. Sesuatu yang bahkan mungkin teman-temannya tidak tahu. Saat jam pertama tadi, ketika pelajaran sudah dimulai, ia selalu merasa ada orang yang mengamatinya dibelakang, tetapi ketika ia berbalik, tidak ada siapa-siapa, jelas saja tidak ada, diakan duduk di deretan terakhir. Lalu saat makan siang di kantin, ia memesan semangkuk bakso, tetapi ketika ia mau makan, bakso itu berubah menjadi 4 bola mata, bahkan mienya berubah menjadi cacing kalung yang besar-besar. Lalu saat di ruang ganti, ketika ia membuka lokernya, ia menemukan mayat didalam lokernya itu, ia berteriak histeris, tetapi karena tidak ada orang, jadi tidak ada yang mendengar teriakannya. Saat sedang lari pemanasan, ia tersandung sesuatu dan ketika dilihatnya ternyata ada sebuah tangan yang tadi memegang pergelangan kakinya. Dan masih banyak lagi keanehan-keanehan lainnya. Mungkin itulah yang membuatnya sedikit stress, karena terlalu banyak berpikir akhirnya ia kecapekan sendiri dan jatuh pingsan karena ditambah smash bola voli yang cukup kuat.
“Adek,” Panggil perawat itu lagi, membuyarkan lamunan Lena.
“Eh, ya.. ad, ada apa mbak?” Lena gelagapan.
“Enggak baik lho ngelamun siang-siang, nanti kesambet!” Perawat itu menakuti-nakuti Lena. Lena hanya merespon dengan tawa kecil. Tetapi tidak lama tawanya itu menghilang, wajahnya menjadi murung dan terlihat cemas.
“Maaf mbak ada yang ingin saya tanyakan,” Kata Lena. “Kenapa rasanya saya hari ini sial terus ya? Bahkan terkadang, sayang melihat hal yang aneh-aneh.” Wajah perawat itu seketika memucat, tubuhnya sedikit gemetaran.
“Hal yang aneh-aneh? Seperti apa contohnya?” Tanya perawat itu, ia mulai ketakutan.
“Waktu istirahat, saya memesan bakso di kantin, tetapi ketika saya mau makan, bakso itu berubah menjadi 4 buah bola mata, waktu saya hendak mengganti baju di ruang ganti, saya melihat mayat di loker saya, dan terakhir ketika pemanasan, pergelangan kaki saya dipegang oleh tangan aneh sampai saya terjatuh,” Kata Lena. Perawat itu terlihat gelisah, rasanya ia ingin keluar dari ruang UKS cepat-cepat, tetapi niat itu di urungkannya karena ia tak tega melihat kondisi Lena yang menyedihkan. Apa sebaiknya kuceritakan? Batin perawat itu. Namun akhirnya ia putuskan untuk menceritakannya, tragedi yang terjadi di SMP N 1 Bimasakti 13 tahun yang lalu.
“Adek ingin tahu kenapa hari ini adek selalu sial?” kata perawat itu. Lena menjawab dengan anggukan cepat. “13 tahun yang lalu, terjadi tragedi yang cukup mengenaskan di SMP N 1 Bimasakti ini, saat itu ada seorang gadis yang sangat tidak beruntung, ia selalu menjadi bahan tertawaan dan ejekan dari teman-temannya, lalu saat ulang tahunnya yang ke-13, teman-temannya mengerjainya habis-habisan sehari penuh, entah itu dilempari mercon, tepung, telur busuk, dikunci dalam kamar mandi, ditukar makan siangnya, atau pun di tuduh melakukan suatu kejahatan, namun rupanya teman-teman gadis itu sudah kelewatan, mereka memfitnah gadis itu mencuri uang kakak kelas mereka, karena marah, kakak kelasnya itu pun menghajarnya habis-habisan, tetapi gadis itu berhasil melarikan diri, sayangnya tidak berapa lama kemudian, ia tertangkap lagi dan akhirnya ia meregang nyawa karena disiksa lebih parah. Tidak tahu harus berbuat apa, kakak kelas beserta teman-temannya memutuskan untuk mengubur jenazah gadis itu, dan sampai sekarang, jasadnya belum ditemukan.” Perawat itu mengambil jeda sebentar lalu melanjutkan kembali. “Sebelum mati, gadis itu bersumpah untuk membunuh setiap orang yang mendapat absen nomor 13, kenapa begitu? Itu karena penyebab teman-temannya selalu mengejek dan mengerjainya adalah karena mereka percaya bahwa angka 13 membawa sial, jadi mereka ingin membuktikan hal tersebut dengan cara mengucilkan, mengejek, dan menyiksa orang yang mendapat absen nomor 13 di kelas mereka, dan si gadis itu kebetulan mendapat nomor absen yang ke-13.”
JDAARRR!!! Tiba-tiba kilat menyambar dan mengagetkan Lena juga perawat itu. Langit yang tadinya cerah telah berubah menjadi mendung, dan tidak lama kemudian hujan pun turun. Lampu di ruang UKS tiba-tiba mati. Lena dan perawat itu ketakutan. Samar-samar mereka mendengar suara rintihan seseorang. “Tolong... tolong....” Suara itu makin terdengar jelas, dan tiba-tiba dari bawah ranjang Lena muncul sesosok mahluk, perawat yang tadi duduk di sebelah Lena langsung menjauh dan menjerit ketakutan. Mahluk itu berlumurah darah dan wajahnya tidak terlalu jelas karena lusak, kulit-kulitnya dipenuhi koreng dan luka-luka yang sudah membusuk. Bau tak sedap pun tercium dari mahluk itu.
“Tolong....,” Mahluk itu berbalik ke tempat Lena berbaring. Lena refelks bangkit, ia berdiri di atas ranjangnya melempari mahluk itu dengan benda-benda yang ada disekitarnya.
“Hentikan! Hentikan! Jangan bunuh aku!! Aku belum ingin mati!!!” Lena histeris, ia loncat dari sisi lain ranjang dan berlari ke tempat si perawat. Mahluk itu tidak mengejar, ia memandang Lena dari tempatnya berdiri, perlahan-lahan setetes darah jatuh di atas lantai, mahluk itu menangis darah. “Tolonglah aku.... kuburkanlah jasadku dengan layak....,” Setelah berkata seperti itu, mahluk itu raib. Lampu yang tadi mati hidup kembali, tetapi Lena dan perawat itu masih gemetar ketakutan. Wangi anyer dan amis darah masih membekas di ruangan itu, bahkan tetesan darah mahluk tadi masih ada di lantai. Perawat itu akhirnya memberanikan diri untuk bergerak kembali, ia mengambil pel untuk membersihkan lantai UKS yang kotor. Lena pun ikut memberanikan dirinya juga, ia berniat untuk membantu si perawat, tetapi ketika hendak mengelap lantai yang berbecak darah tadi, ia melihat rangkain tulisan yang berasal dari bercak darah itu, “U... K...S..,” Lena mengejanya. Tiba-tiba terpampang jawaban di kepalanya.
“Mbak! Saya tahu dimana jasad gadis itu!” Serunya gembira. Perawat itu bengong untuk sesaat, tetapi kemudian ia terlihat gembira juga.
“Benarkah? Dimana??” Tanyanya.
“DI UKS!!!” Jawab Lena. “13 tahun yang lalu disekolah ini belum ada UKS kan??” Perawat itu diam sebentar untuk berpikir, lalu beberapa saat kemudian ia menggeleng. “Belum ada!! Mungkin memang dikubur di bawah ruang UKS!” Lalu keduanya saling bersorak gembira.

Keesokan harinya, Lena dan perawat di UKS itu meminta tolong kepada kepala sekolah untuk mengirim tim penyelidik. Dan siangnya tim penyelidik yang mereka panggil itu menggali di sekitar mahluk itu muncul. Akhirnya setelah lama menggali, mereka menemukan tulang-belulang yang cukup besar yang diduga itu adalah tulang badan gadis yang tewas 13 tahun lalu itu. Bahkan mereka menemukan tengkorak kepalanya dan beberapa benda seperti jam tangan dan kalung milik gadis itu. Setelah semuanya dikebumikan dengan layak, Lena melihat samar-samar bayangan yang melambaikan tangan padanya dan mengucapkan “terima kasih”. Lena tersenyum bahagia dan membalas melambaikan tangan juga. Dan bayangan itu menghilang..... untuk selamanya...........
Selanjutnya

Peradilan Rakyat (Cerpen)

Seorang pengacara muda yang cemerlang mengunjungi ayahnya, seorang pengacara senior yang sangat dihormati oleh para penegak hukum.

"Tapi aku datang tidak sebagai putramu," kata pengacara muda itu, "aku datang ke mari sebagai seorang pengacara muda yang ingin menegakkan keadilan di negeri yang sedang kacau ini."

Pengacara tua yang bercambang dan jenggot memutih itu, tidak terkejut. Ia menatap putranya dari kursi rodanya, lalu menjawab dengan suara yang tenang dan agung.

"Apa yang ingin kamu tentang, anak muda?"
Pengacara muda tertegun. "Ayahanda bertanya kepadaku?"
"Ya, kepada kamu, bukan sebagai putraku, tetapi kamu sebagai ujung
tombak pencarian keadilan di negeri yang sedang dicabik-cabik korupsi ini."
Pengacara muda itu tersenyum.
"Baik, kalau begitu, Anda mengerti maksudku."

"Tentu saja. Aku juga pernah muda seperti kamu. Dan aku juga berani, kalau perlu kurang ajar. Aku pisahkan antara urusan keluarga dan kepentingan pribadi dengan perjuangan penegakan keadilan. Tidak seperti para pengacara sekarang yang kebanyakan berdagang. Bahkan tidak seperti para elit dan cendekiawan yang cemerlang ketika masih di luar kekuasaan, namun menjadi lebih buas dan keji ketika memperoleh kesempatan untuk menginjak-injak keadilan dan kebenaran yang dulu diberhalakannya. Kamu pasti tidak terlalu jauh dari keadaanku waktu masih muda. Kamu sudah membaca riwayat hidupku yang belum lama ini ditulis di sebuah kampus di luar negeri bukan? Mereka menyebutku Singa Lapar. Aku memang tidak pernah berhenti memburu pencuri-pencuri keadilan yang bersarang di lembaga-lembaga tinggi dan gedung-gedung bertingkat. Merekalah yang sudah membuat kejahatan menjadi budaya di negeri ini. Kamu bisa banyak belajar dari buku itu."

Pengacara muda itu tersenyum. Ia mengangkat dagunya, mencoba memandang pejuang keadilan yang kini seperti macan ompong itu, meskipun sisa-sisa keperkasaannya masih terasa.

"Aku tidak datang untuk menentang atau memuji Anda. Anda dengan seluruh sejarah Anda memang terlalu besar untuk dibicarakan. Meskipun bukan bebas dari kritik. Aku punya sederetan koreksi terhadap kebijakan-kebijakan yang sudah Anda lakukan. Dan aku terlalu kecil untuk menentang bahkan juga terlalu tak pantas untuk memujimu. Anda sudah tidak memerlukan cercaan atau pujian lagi. Karena kau bukan hanya penegak keadilan yang bersih, kau yang selalu berhasil dan sempurna, tetapi kau juga adalah keadilan itu sendiri."

Pengacara tua itu meringis.
"Aku suka kau menyebut dirimu aku dan memanggilku kau. Berarti kita bisa bicara sungguh-sungguh sebagai profesional, Pemburu Keadilan."
"Itu semua juga tidak lepas dari hasil gemblenganmu yang tidak kenal ampun!"
Pengacara tua itu tertawa.
"Kau sudah mulai lagi dengan puji-pujianmu!" potong pengacara tua.
Pengacara muda terkejut. Ia tersadar pada kekeliruannya lalu minta maaf.

"Tidak apa. Jangan surut. Katakan saja apa yang hendak kamu katakan," sambung pengacara tua menenangkan, sembari mengangkat tangan, menikmati juga pujian itu, "jangan membatasi dirimu sendiri. Jangan membunuh diri dengan diskripsi-diskripsi yang akan menjebak kamu ke dalam doktrin-doktrin beku, mengalir sajalah sewajarnya bagaikan mata air, bagai suara alam, karena kamu sangat diperlukan oleh bangsamu ini."

Pengacara muda diam beberapa lama untuk merumuskan diri. Lalu ia meneruskan ucapannya dengan lebih tenang.

"Aku datang kemari ingin mendengar suaramu. Aku mau berdialog."
"Baik. Mulailah. Berbicaralah sebebas-bebasnya."

"Terima kasih. Begini. Belum lama ini negara menugaskan aku untuk membela seorang penjahat besar, yang sepantasnya mendapat hukuman mati. Pihak keluarga pun datang dengan gembira ke rumahku untuk mengungkapkan kebahagiannya, bahwa pada akhirnya negara cukup adil, karena memberikan seorang pembela kelas satu untuk mereka. Tetapi aku tolak mentah-mentah. Kenapa? Karena aku yakin, negara tidak benar-benar menugaskan aku untuk membelanya. Negara hanya ingin mempertunjukkan sebuah teater spektakuler, bahwa di negeri yang sangat tercela hukumnya ini, sudah ada kebangkitan baru. Penjahat yang paling kejam, sudah diberikan seorang pembela yang perkasa seperti Mike Tyson, itu bukan istilahku, aku pinjam dari apa yang diobral para pengamat keadilan di koran untuk semua sepak-terjangku, sebab aku selalu berhasil memenangkan semua perkara yang aku tangani.

Aku ingin berkata tidak kepada negara, karena pencarian keadilan tak boleh menjadi sebuah teater, tetapi mutlak hanya pencarian keadilan yang kalau perlu dingin danbeku. Tapi negara terus juga mendesak dengan berbagai cara supaya tugas itu aku terima. Di situ aku mulai berpikir. Tak mungkin semua itu tanpa alasan. Lalu aku melakukan investigasi yang mendalam dan kutemukan faktanya. Walhasil, kesimpulanku, negara sudah memainkan sandiwara. Negara ingin menunjukkan kepada rakyat dan dunia, bahwa kejahatan dibela oleh siapa pun, tetap kejahatan. Bila negara tetap dapat menjebloskan bangsat itu sampai ke titik terakhirnya hukuman tembak mati, walaupun sudah dibela oleh tim pembela seperti aku, maka negara akan mendapatkan kemenangan ganda, karena kemenangan itu pastilah kemenangan yang telak dan bersih, karena aku yang menjadi jaminannya. Negara hendak menjadikan aku sebagai pecundang. Dan itulah yang aku tentang.

Negara harusnya percaya bahwa menegakkan keadilan tidak bisa lain harus dengan keadilan yang bersih, sebagaimana yang sudah Anda lakukan selama ini."

Pengacara muda itu berhenti sebentar untuk memberikan waktu pengacara senior itu menyimak. Kemudian ia melanjutkan.

"Tapi aku datang kemari bukan untuk minta pertimbanganmu, apakah keputusanku untuk menolak itu tepat atau tidak. Aku datang kemari karena setelah negara menerima baik penolakanku, bajingan itu sendiri datang ke tempat kediamanku dan meminta dengan hormat supaya aku bersedia untuk membelanya."

"Lalu kamu terima?" potong pengacara tua itu tiba-tiba.
Pengacara muda itu terkejut. Ia menatap pengacara tua itu dengan heran.
"Bagaimana Anda tahu?"

Pengacara tua mengelus jenggotnya dan mengangkat matanya melihat ke tempat yang jauh. Sebentar saja, tapi seakan ia sudah mengarungi jarak ribuan kilometer. Sambil menghela napas kemudian ia berkata: "Sebab aku kenal siapa kamu."

Pengacara muda sekarang menarik napas panjang.
"Ya aku menerimanya, sebab aku seorang profesional. Sebagai seorang pengacara aku tidak bisa menolak siapa pun orangnya yang meminta agar aku melaksanakan kewajibanku sebagai pembela. Sebagai pembela, aku mengabdi kepada mereka yang membutuhkan keahlianku untuk membantu pengadilan menjalankan proses peradilan sehingga tercapai keputusan yang seadil-adilnya."

Pengacara tua mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti.
"Jadi itu yang ingin kamu tanyakan?"
"Antara lain."
"Kalau begitu kau sudah mendapatkan jawabanku."
Pengacara muda tertegun. Ia menatap, mencoba mengetahui apa yang ada di dalam lubuk hati orang tua itu.
"Jadi langkahku sudah benar?"
Orang tua itu kembali mengelus janggutnya.

"Jangan dulu mempersoalkan kebenaran. Tapi kau telah menunjukkan dirimu sebagai profesional. Kau tolak tawaran negara, sebab di balik tawaran itu tidak hanya ada usaha pengejaran pada kebenaran dan penegakan keadilan sebagaimana yang kau kejar dalam profesimu sebagai ahli hukum, tetapi di situ sudah ada tujuan-tujuan politik. Namun, tawaran yang sama dari seorang penjahat, malah kau terima baik, tak peduli orang itu orang yang pantas ditembak mati, karena sebagai profesional kau tak bisa menolak mereka yang minta tolong agar kamu membelanya dari praktik-praktik pengadilan yang kotor untuk menemukan keadilan yang paling tepat. Asal semua itu dilakukannya tanpa ancaman dan tanpa sogokan uang! Kau tidak membelanya karena ketakutan, bukan?"
"Tidak! Sama sekali tidak!"
"Bukan juga karena uang?!"
"Bukan!"
"Lalu karena apa?"
Pengacara muda itu tersenyum.
"Karena aku akan membelanya."
"Supaya dia menang?"

"Tidak ada kemenangan di dalam pemburuan keadilan. Yang ada hanya usaha untuk mendekati apa yang lebih benar. Sebab kebenaran sejati, kebenaran yang paling benar mungkin hanya mimpi kita yang tak akan pernah tercapai. Kalah-menang bukan masalah lagi. Upaya untuk mengejar itu yang paling penting. Demi memuliakan proses itulah, aku menerimanya sebagai klienku."
Pengacara tua termenung.
"Apa jawabanku salah?"
Orang tua itu menggeleng.

"Seperti yang kamu katakan tadi, salah atau benar juga tidak menjadi persoalan. Hanya ada kemungkinan kalau kamu membelanya, kamu akan berhasil keluar sebagai pemenang."

"Jangan meremehkan jaksa-jaksa yang diangkat oleh negara. Aku dengar sebuah tim yang sangat tangguh akan diturunkan."

"Tapi kamu akan menang."
"Perkaranya saja belum mulai, bagaimana bisa tahu aku akan menang."

"Sudah bertahun-tahun aku hidup sebagai pengacara. Keputusan sudah bisa dibaca walaupun sidang belum mulai. Bukan karena materi perkara itu, tetapi karena soal-soal sampingan. Kamu terlalu besar untuk kalah saat ini."

Pengacara muda itu tertawa kecil.
"Itu pujian atau peringatan?"
"Pujian."
"Asal Anda jujur saja."
"Aku jujur."
"Betul?"
"Betul!"

Pengacara muda itu tersenyum dan manggut-manggut. Yang tua memicingkan matanya dan mulai menembak lagi.
"Tapi kamu menerima membela penjahat itu, bukan karena takut, bukan?"

"Bukan! Kenapa mesti takut?!"
"Mereka tidak mengancam kamu?"
"Mengacam bagaimana?"
"Jumlah uang yang terlalu besar, pada akhirnya juga adalah sebuah ancaman. Dia tidak memberikan angka-angka?"

"Tidak."
Pengacara tua itu terkejut.
"Sama sekali tak dibicarakan berapa mereka akan membayarmu?"
"Tidak."
"Wah! Itu tidak profesional!"
Pengacara muda itu tertawa.
"Aku tak pernah mencari uang dari kesusahan orang!"
"Tapi bagaimana kalau dia sampai menang?"
Pengacara muda itu terdiam.
"Bagaimana kalau dia sampai menang?"
"Negara akan mendapat pelajaran penting. Jangan main-main dengan kejahatan!"
"Jadi kamu akan memenangkan perkara itu?"
Pengacara muda itu tak menjawab.
"Berarti ya!"
"Ya. Aku akan memenangkannya dan aku akan menang!"

Orang tua itu terkejut. Ia merebahkan tubuhnya bersandar. Kedua tangannya mengurut dada. Ketika yang muda hendak bicara lagi, ia mengangkat tangannya.

"Tak usah kamu ulangi lagi, bahwa kamu melakukan itu bukan karena takut, bukan karena kamu disogok."
"Betul. Ia minta tolong, tanpa ancaman dan tanpa sogokan. Aku tidak takut."

"Dan kamu menerima tanpa harapan akan mendapatkan balas jasa atau perlindungan balik kelak kalau kamu perlukan, juga bukan karena kamu ingin memburu publikasi dan bintang-bintang penghargaan dari organisasi kemanusiaan di mancanegara yang benci negaramu, bukan?"

"Betul."
"Kalau begitu, pulanglah anak muda. Tak perlu kamu bimbang.

Keputusanmu sudah tepat. Menegakkan hukum selalu dirongrong oleh berbagai tuduhan, seakan-akan kamu sudah memiliki pamrih di luar dari pengejaran keadilan dan kebenaran. Tetapi semua rongrongan itu hanya akan menambah pujian untukmu kelak, kalau kamu mampu terus mendengarkan suara hati nuranimu sebagai penegak hukum yang profesional."

Pengacara muda itu ingin menjawab, tetapi pengacara tua tidak memberikan kesempatan.
"Aku kira tak ada yang perlu dibahas lagi. Sudah jelas. Lebih baik kamu pulang sekarang. Biarkan aku bertemu dengan putraku, sebab aku sudah sangat rindu kepada dia."

Pengacara muda itu jadi amat terharu. Ia berdiri hendak memeluk ayahnya. Tetapi orang tua itu mengangkat tangan dan memperingatkan dengan suara yang serak. Nampaknya sudah lelah dan kesakitan.

"Pulanglah sekarang. Laksanakan tugasmu sebagai seorang profesional."
"Tapi..."

Pengacara tua itu menutupkan matanya, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. Sekretarisnya yang jelita, kemudian menyelimuti tubuhnya. Setelah itu wanita itu menoleh kepada pengacara muda.
"Maaf, saya kira pertemuan harus diakhiri di sini, Pak. Beliau perlu banyak beristirahat. Selamat malam."

Entah karena luluh oleh senyum di bibir wanita yang memiliki mata yang sangat indah itu, pengacara muda itu tak mampu lagi menolak. Ia memandang sekali lagi orang tua itu dengan segala hormat dan cintanya. Lalu ia mendekatkan mulutnya ke telinga wanita itu, agar suaranya jangan sampai membangunkan orang tua itu dan berbisik.

"Katakan kepada ayahanda, bahwa bukti-bukti yang sempat dikumpulkan oleh negara terlalu sedikit dan lemah. Peradilan ini terlalu tergesa-gesa. Aku akan memenangkan perkara ini dan itu berarti akan membebaskan bajingan yang ditakuti dan dikutuk oleh seluruh rakyat di negeri ini untuk terbang lepas kembali seperti burung di udara. Dan semoga itu akan membuat negeri kita ini menjadi lebih dewasa secepatnya. Kalau tidak, kita akan menjadi bangsa yang lalai."

Apa yang dibisikkan pengacara muda itu kemudian menjadi kenyataan. Dengan gemilang dan mudah ia mempecundangi negara di pengadilan dan memerdekaan kembali raja penjahat itu. Bangsat itu tertawa terkekeh-kekeh. Ia merayakan kemenangannya dengan pesta kembang api semalam suntuk, lalu meloncat ke mancanegara, tak mungkin dijamah lagi. Rakyat pun marah. Mereka terbakar dan mengalir bagai lava panas ke jalanan, menyerbu dengan yel-yel dan poster-poster raksasa. Gedung pengadilan diserbu dan dibakar. Hakimnya diburu-buru. Pengacara muda itu diculik, disiksa dan akhirnya baru dikembalikan sesudah jadi mayat. Tetapi itu pun belum cukup. Rakyat terus mengaum dan hendak menggulingkan pemerintahan yang sah.

Pengacara tua itu terpagut di kursi rodanya. Sementara sekretaris jelitanya membacakan berita-berita keganasan yang merebak di seluruh wilayah negara dengan suaranya yang empuk, air mata menetes di pipi pengacara besar itu.

"Setelah kau datang sebagai seorang pengacara muda yang gemilang dan meminta aku berbicara sebagai profesional, anakku," rintihnya dengan amat sedih, "Aku terus membuka pintu dan mengharapkan kau datang lagi kepadaku sebagai seorang putra. Bukankah sudah aku ingatkan, aku rindu kepada putraku. Lupakah kamu bahwa kamu bukan saja seorang profesional, tetapi juga seorang putra dari ayahmu. Tak inginkah kau mendengar apa kata seorang ayah kepada putranya, kalau berhadapan dengan sebuah perkara, di mana seorang penjahat besar yang terbebaskan akan menyulut peradilan rakyat seperti bencana yang melanda negeri kita sekarang ini?" **
Selanjutnya

Aku Datang Maisya (Cerpen)

Aku telah dilanda keinginan mengebu untuk menikah. Bahkan sudah kujalani semua cara agar cepat bisa melaksanakan sunah Rasul yang satu ini. Malah aku selalu mengimpikannya di tiap malam menjelang tidur.
Gadis yang kuidamkan sejak kecil, bahkan menjadi teman main bersama, ternyata dinikahi orang lain. Padahal dia sudah ngaji. Sedih juga rasanya. Ada juga yang aku dapatkan dari orang yang aku kenal baik, dan sudah kujalani “prosedurnya”. Tapi ternyata kandas karena aku dinilai masih terlalu muda untuk menikah.
Akhirnya , aku kenal dengan seseorang yang sesuai dengan kriteria. Aku mengenalnya dengan perantaraan teman dekatku. Jujur saja, aku telah mendapat biodatanya, juga gambaran wajahnya. Langsung saja kukatakan pada teman dekatku bahwa aku sangat-sangat setuju.
“Eh, ente (kamu) harus ketemu dulu dan tahu dengan baik siapa dia,” kata temanku.
Tapi kujawab enteng, “Tapi ane (aku) langsung sreg kok”.
“Ya sudah, terserah ente aja lah,” sahut temanku sambil geleng-geleng kepala.
Karena aku yakin pacaran jelas-jelas dilarang dalam Islam sebab hal itu adalah jalan menuju zina, aku pun tak menjalaninya. Jangankan zina, hal-hal yang akan mengarahkan kepadanya saja sudah dilarang. Oleh karena itu, aku hanya menunggu waktu kapan ada pembicaraan awal antara aku dan Maisya (akhwat incaranku itu). Sabar deh, sementara ikuti saja seperti air mengalir.
Lewat kurang lebih 2-3 minggu mulailah terjadi pembicaraan antar aku dan Maisya. Ketika kuberanikan diri memulai pada poin yang penting yaitu mengungkapkan niatku untuk menikahinya, apa jawabnya? Aku disuruh menghadap murabbinya (guru/pembimbing) .
“Kenapa tidak ke orang tua Maisya saja?” tanyaku.
“Tidak, pokoknya akhi (saudara lelaki) harus ketemu dulu sama Murabbi saya.” jawabnya.
Aku baru tahu, ada seorang akhwat ketika ada yang ingin menikahinya disuruh menghadap Murabbinya, bukan orang tuanya. Padahal, di antara birrul walidain adalah menjadikan orang tua sebagai orang yang pertama kali diajak diskusi tentang pernikahan, bukan gurunya, ustadznya, atau siapa pun. Barulah kutahu itu merupakan kebiasaan akhwat-akhwat tarbiyah (pergerakan) .
***
Aku catat alamat murabbi (MR) yang Maisya sebutkan. Pada hari Ahad kuajak 2 teman dekatku untuk menemani ke rumah sang MR. Dengan sedikit kesasar akhirnya sampailah kami di rumahnya. Tapi setelah pencet tombol tiga kali dan “Assalamu’alaikum” tiga kali tak dibuka, kami pun pulang dengan agak kecewa, sebab siang itu adalah jam 2, saat matahari sangat terik menyengat.
Kutelepon Maisya bahwa aku tak bisa ketemu MR-nya. Maisya membolehkanku hanya dengan menelepon MR. Malam itu juga aku pun menelepon dan alhamdulillah nyambung. Aku ditanya segala macam yang berkaitan dengan agama. Dari masalah belajar, kerja, ngaji, tarbiyah, murabbi-ku, ustadz yang sering kuikuti kajiannya, sampai buku-buku yang sering kubaca. Juga, pertanyaan-pertanya an tambahan lainnya.
Dengan polos dan santai kujawab pertanyaan-pertanya an itu. Yang membuatku heran, ketika kusebutkan nama ustadz-ustadz yang sering kuikuti kajiannya sampai, nada MR agak beda dari awal pembicaraan. Terutama ketika kusebutkan kitab-kitab yang sering
kujadikan rujukan dalam memahami agama. Aku belum tahu kenapa bisa begitu.
Kuceritakan pembicaraan itu pada teman dekatku. Ternyata temanku menjawab dengan nada menyesal.
“Aduh, kenapa tidak bicarakan dulu denganku. Ente tahu? Kalau akan menikahi akhwat tarbiyah sedang ente tidak ikut dalam tarbiyah atau liqa’ tertentu dan punya MR, maka ente otomais akan ditolak. Apalagi ente sebutkan nama-nama ustadz, buku-buku dan para syeikh Timur Tengah, bakalan ditolak deh, itu sudah ma’ruf (populer).”
“Lho kan ane jawab jujur, saat ini ane tidak ikut tarbiyah, atau apa namanya tadi, liqa’? Ya memang aku tak ikut. Ane juga nggak punya MR dong. Oo.., jadi begitu ya?” aku hanya melongo.
***
Beberapa hari kemudian, aku dapat telpon dari Maisya yang menjadikan hatiku sedikit hancur.
“Assalamu’alaikum, akhi saya sudah mempertimbangkan semuanya, mungkin Allah belum menakdirkan kita berjodoh. Semoga kita sama-sama mendapatkan yang terbaik untuk pasangan kita, saya minta maaf, kalau ada kesalahan selama ini, Assalamu’alaikum,”
“Kletuk, nuut nuut nuut” terdengar suara gagang telpon ditutup dan nada sambung terputus.
Aku masih memegang gagang telepon dan hanya bisa melongo mendapat jawaban tersebut. Kutaruh gagang telpon dengan lunglai. “Astagfirullah,” kusebut kata-kata itu berulang kali. Apa yang harus kuperbuat? Tak tahu harus bagaimana. Tapi sohib dekatku
yang dari tadi memperhatikanku waktu menelepon nyeletuk .
“Ditolak ya? Udah deh, kan masih banyak harem (wanita) lain, ngapain ngejar-ngejar ngapain ngejar-ngejar yang sudah jelas-jelas nolak.”
Aku jawab saja dengan ketus, “Ane belum nyerah, karena ada janggal dalam pemolakan it, ane belum yakin dia menolak, akan ane coba lagi”.
“Udah deh jangan terlalu PD,” sahut sohibku.
Ternyata bener juga kata temanku itu, jawaban-jawabanku kepada MR menyebabkan aku ditolak oleh Maisya. Aku dipandang beda manhaj dalam memahami Islam, padahal yang kusebutkan waktu menjawab pertanyaan tentang buku-buku rujukan adalah Fathul Majiid, Al-Ushul Al-Tsalatsah, dan kitab-kitab karya Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qayyim, Syeikh Abdul Aziz bin Baz, Syeikh Muhammad Shalih Utsaimin, yang semuanya aku tahu bahwa mereka selalu mendasarkan bahasannya kepada dalil-dalil yang shahih.
Hatiku sudah terlanjur cocok sama Maisya. Jujur aku sudah merasa sreg sekali kalau Maisya jadi pendamping hidupku. Tapi aku ditolak. “Apa yang harus kuperbuat?” kataku dalam hati. Menyerah kemudian mencari yang lain? Baru begitu saja kok nyerah.
Tanpa sepengetahuan sohibku, kutulis surat ke orangtua Maisya. Yang kutahu bahwa dia hanya punya ibu. Bapaknya sudah meninggal saat Maisya berumur 8 tahun. Kutulis surat yang isinya kurang lebih tentang proses penolakan itu. Juga janjiku jika ditolak oleh ibunya, maka aku akan menerima dan tak akan menghubunginya lagi.
Dengan penuh harap kukirim surat tersebut, tak disangka ternyata surat itu sampai di tangan Maisya dan dibacanya. Alamak, kenapa bisa begitu? Untuk beberapa hari tidak ada respon. Gundah gulana pun datang. Apa yang harus kulakukan?
Kuputuskan untuk mengirim surat ke Maisya langsung. Semuanya aku ungkapkan dengan bahasa setengah resmi tapi santai. Aku memang sedikit ndableg. Di penghujung surat tersebut kukatakan, “Kalau memang Allah takdirkan kita tidak jodoh, saya punya satu permintaan, tolonglah saya untuk mendapatkan pendamping dari teman-teman Maisya yang Maisya pandang pas untuk saya, minimal yang seperti Maisya.”
Kupikir Maisya akan “tersungkur” dengan membaca suratku yang panjang lebar. Aku berpikir seandainya ada orang membaca suratku, pasti akan mengatakan “rayuan gombal!”. Tapi jujur saja, itu berangkat dari hatiku yang paling dalam.
Surat kedua itu, qadarallah ternyata malah diterima dan dibaca oleh ibu Maisya dan kakak perempuannya. Nah, dari situkah terjadi kontak antara aku dan keluarganya. Tak disangka-sangka kudapat telpon dari kakak perempuan Maisya, Kak Dahlia (tentu saja bukan nama asli). Kak Dahlia menelepon dan memintaku untuk datang ke rumahnya guna klarifikasi surat tersebut.
***
Seminggu kemudian kupeniuhi undangan itu. Setelah bertemu dan “sesi tanya-jawab” , dengan manggut-manggut akhirnya Kak Dahlia angkat bicara,
“Baiklah, kakak sudah dengar cerita kamu, saya heran kenapa Maisya menolakmu, ya?
Padahal menurut hemat kakak, kamu pantas diterima kok”.
Hatiku berbunga-bunga mendengarnya, . Tapi langsung surut lagi karena pernyataan itu datang dari Kak Dahlia bukan Maisya. Aku sedikit senyum kecut menanggapi omongan kak Dahlia.
“Begini aja deh, kamu sekarang pulang dulu. Biar nanti kakak dan Umi yang akan rayu
Maisya. Pokoknya kamu banyak doa aja. Pada dasarnya kami setuju kok sama kamu.”
Aku izin pulang dengan sedikit riang gembira. Mulutku hanya bergumam penuh doa, semoga Allah mengabulkan cita-citaku. Kira-kira 2 minggu setelah itu kudapat telpon lagi dari Kak Dahlia agar aku ke rumahnya. Dia bilang aku harus bertemu langsung dengan Maisya. Hatiku pun berdebar. Dengan sedikit gagap aku iyakan undangan itu. “Besok deh Kak, insyaAllah saya datang,” jawabku.
Aku duduk di kursi ruang tamu yang sama untuk kedua kalinya. Sedikit basa-basi Kak Dahlia mengajakku ngobrol tentang hal-hal yang belum ditanyakan pada pertemuan sebelumya. Kurang lebih 10-15 menit Kak Dahlia memanggil Maisya agar ke ruang tamu menemuiku. Dadaku berdegub. Inilah saatnya aku nadhar (melihat) bagaimana rupa Maisya yang sebenarnya. Apa sama seperti yang kubayangkan sebelumnya?
Jangan-jangan tidak sama. Lebih jelek atau bahkan lebih cakep dari aslinya. Tunggu saja deh.
Tidak lama kemudian keluarlah sosok makhluk Allah yang bernama Maisya. Aku tetap menjaga pandanganku. Tapi jujur saja, tak kuasa kucuri pandang untuk yang pertama kalinya. Bahkan seharusnya untuk acara nadhar biasanya lebih dari mencuri pandang, karena memang dianjurkan oleh Rasulullah. Tapi bagiku sangat cukup melihatnya sekali-kali. Aku hanya bisa mengatakan dalam hatiku tentang Maisya, subhanallah! Aku tak bisa ceritakan kepada pembaca karena itu hanya untukku saja.
Tak sadar keringat dingin mengalir dari pelipis. Ada apa gerangan? Kenapa rasanya agak grogi? Ah, aku harus teguh dan tangguh hadapi semua ini. Obrolan pun mulai bergulir. Dari mulai pertanyaan-pertanya an agama secara umum sampai diskusi tentang kerumahtanggaan. Kurang lebih satu jam aku di rumah itu. Aku pun pamit sambil memberikan hadiah-hadiah buku-buku kecil tentang agama.
Di bus kota aku senyum-senyum sendirian. Seakan-akan bus itu adalah bus patas AC padahal sebenarnya hanya bus ekonomi yang panas dan penuh asap rokok. Tapi semua itu tidak kurasakan. Kuberdoa semoga rayuan Kak Dahlia berhasil.
Ternyata benar, beberapa hari kemudian aku ditelepon Maisya, kali ini menanyakan kelanjutan proses kami kemarin. Kujawab jika dibolehkan akan kuajak keluargaku di waktu yang kutentukan. Di penghujung pembicaraan, Maisya setuju dengan tawaranku.
Kutanya ke sana ke mari tentang barang-barang apa yang pantas dibawa ketika meng-khitbah seorang wanita. Kubeli sebuah koper kecil dan kuisi dengan barang-barang seperti bahan pakaian, komestik, sepatu, dan sebagainya. Tak lupa aku bawakan buah-buahan seadanya. Hal ini sebenarnya sudah kutanyakan kepada Maisya, tapi Maisya hanya menjawab terserah aku mau bawa apa saja pasti dia akan terima. Duh…, senangnya.
Sebelumnya aku lupa, ternyata Maisya masih punya darah Arab dari ibunya. Bahkan, ibunya punya nasab Arab yang dikenal di Indonesia sebagai Habib (Orang Arab yang mengaku punya garis nasab langsung dengan Rasulullah). Padahal setahuku Rasulullah tak punya keturunan laki-laki yang kemudian punya anak. Yang ada hanya Fatimah yang diperistri oleh Ali bin Abi Thalib. Sedangkan dalam Islam, darah nasab hanya sah dari garis bapak atau lelaki. Jadi, mungkin yang dimaksud mereka adalah keturunan dari Ali bin Abi Thalib.
Satu hal yang perlu diketahui, bahwa dalam adat orang Arab terutama golongan Habaib atau Habib, wanita mereka pantang dinikahi oleh non Arab. Bahkan, sebagian mengharamkannya. Alasan yang populer adalah mereka merasa lebih mulia dari keturunan non Arab. Bahkan, sebagian mengharamkannya. Aku pun harus siap dengan apa yang akan aku hadapi nanti. Bisa jadi ditolak atau tidak. Dan yang ada di depan mataku adalah ditolak.
Aku datang sekeluarga dengan naik Taksi. Aku tidak punya mobil. Dari mana aku punya mobil sedangkan aku baru bekerja setahun? Sambutan hambar kudapatkan ketika memasuki ruang tamu. Di situ sudah hadir ibu-ibu yang merupakan keluarga besar dari ibu Maisya. Anehnya,di acara itu tidak hadir laki-laki dari pihak keluarga besar Maisya.
Kemudian acara dilanjutkan dengan saling memberi sambutan. Namun yang kutunggu hanya momen di mana Maisya menerima lamaranku dari mulutnya sendiri. Saat itu pun tiba. Dengan agak malu-malu dan terbata-bata Maisya menerima lamaranku.
Diakhir acara ketika hari penentuan hari “H” dan bentuk acaranya. Ada salah satu dari anggota keluarga Maisya yang menanyakan uang untuk walimah nanti. Aku hanya menjawab bahwa hal itu sudah kubicarakan dengan Maisya. Tapi dia memaksaku untuk menyebutkan jumlahnya. Aku tetap tak mau menyebutkan. Rupanya orang tadi kecewa berat dengan jawabanku.
Setelah acara selesai, aku pamit. Sedikit lega kulalui detik-detik mendebarkan. Aku bersyukur kepada Allah yang meloloskan diriku pada babak berikutnya dalam usaha mengamalkan sunah Rasulullah yang mulia ini.
Ternyata ujian belum selesai juga. Maisya didatangi keluarga besarnya dengan membawa lelaki yang akan dijodohkan dengannya. Lamaranku ditimpa oleh lamaran orang lain.
Orang yang akan dijodohkan dengan Maisya masih punya hubungan keluarga. Mereka datang dengan mobil, membawa makanan banyak sekali, uang lamaran, dan juga perhiasan.
Apa yang kubawa kemarin tidak ada apa-apanya dibanding dengan yang dibawa pelamar kedua ini. Tapi subhanallah, apa yang Maisya lakukan? Maisya tak mau menemuinya. Maisya tak menerima lamarannya.
Bahkan setelah rombongan itu pulang dan meninggalkan bawaan mereka sebagai lamaran untuk Maisya, apa yang Maisya lakukan? “Kembalikan semua barang bawaannya dan jangan ada yang menyentuh walau untuk mencicipi makanan, kembalikan dan jangan ada yang tersisa di rumah ini.” Aku dapatkan cerita ini dari kak Dahlia yang meneleponku.
Mendengar semua ini, tak terasa air mataku menetes membasahi pipiku. Padahal aku adalah lelaki yang selama ini selalu berpantang untuk menangis. Saat itulah aku mulai yakin bahwa Maisya harus kudapatkan, sekali pun harus menghadapi hal-hal yang menyakiti hatiku.
***
Beberapa hari kemudian aku mendapat telepon dari seorang ibu yang mengaku bibi Maisya. Ketika kutanya namanya dia tak mau menyebutkan. Malah dia nyerocos panjang lebar tentang acara lamaranku kepada Maisya. Dengan nada sinis dan tinggi dia mulai merayuku untuk membatalkan lamaranku. “Saya kasih tau ya! Kamu kan baru bekerja belum satu tahun, belum punya rumah dan mobil. Sedangkan Juli Jajuli (bukan nama asli) kan sudah punya kerjaan, rumah besar, mobil ada dua. Jadi, kamu batalkan lamaran. Biar Maisya menerima lamaran Jajuli. Kamu kan bisa cari yang lain.”
Hhh! Betapa mendidih mendengar ocehan sinis itu. Tapi aku langsung kontrol diri. Aku jawab dengan suara pelan dan sopan bahwa aku akan terima hal itu dengan ikhlas tanpa ada paksaan dari siapa pun. Sebelum kudengar langsung dari mulut Maisya, aku tak akan pernah membatalkan lamaranku. Gubrakkkk!, terdengar suara gagang telepon dibanting, padahal jawabanku belum selesai.
Suatu hari di tengah kesibukanku, datanglah seorang wanita sekitar umur 25-30 tahun ke kantorku. Tanpa permisi dan sopan santun dia menghampiriku, “Kamu yang melamar Maisya? Kamu tuh ga tahu diri ya? Belum jadi menantu saja sudah belagu,” cerocosnya.
“Mohon tenang dulu, apa masalahnya? Ayo kita duduk dulu di sini jelaskan dengan pelan,” sambutku dengan sabar.
“Kamu tuh kalo ngasih alamat yang jelas, biar mudah dicari, saya sudah muter-muter mencari alamatmu tapi ternyata tidak ketemu-ketemu, apa kamu mau mempermainkan kami?” tukasnya sambil menunjukkan kartu namaku.
“Apa tadi ente tidak tanya sama orang-orang?” tanyaku.
“Tidak!” jawabnya ketus.
“Ya jelas pasti kesasar, seharusnya ente tanya-tanya dong,” sahutku.
“Aaah udah deh jangan banyak alasan,” jawabnya. “Eh aku kasih tau ya, kau tuh jangan pernah macam-macam dengan keturunan Nabi, kuwalat loh!”, ancamnya.
Dengan sedikit senyum kujawab ancamannnya, “Kalo Nabi punya keturunan seperti ente, pasti Nabi akan sangat marah pada ente. Wanita kok pakai celana jeans, kaos ketat, dan tidak berjilbab. Nabi tentu akan malu jika punya keturunan seperti ente.” Wanita itu kabur sambil ngomel-ngomel entah apa yang dia katakan.
Kejadian itu membuat hatiku semakin was-was dan khawatir. Kalau demikian dengkinya mereka dengan pernikahanku bersama Maisya, maka bisa jadi mereka akan lebih jauh lagi dalam memberikan “teror”. Akankah mereka menghalangiku sampai pelaksanaan hari “H”? Wallahu a’lam.
Yang jelas sebelum aku tanda tangan surat nikah yang disediakan penghulu, maka aku belum bisa menentukan bahwa Allah takdirkan aku menikahi Maisya. Semuanya bisa terjadi. Sabarkanlah diriku ya Allah.
Dari telepon pula aku tahu bahwa Maisya sempat disidang oleh keluarga besarnya untuk membatalkan pernikahan denganku. Tapi dia lebih memilih akan kabur dari rumah dan tetap menikah denganku. Padahal keluarganya memberi pilihan: batal nikah atau putus hubungan keluarga.
***
Undangan mulai kucetak. Sederhana sekali karena aku memang tidak punya biaya banyak untuk pernikahan ini. Aku tidak punya saudara di kota tempat Maisya tinggal. Jadi undangan yang banyak hanya untuk keluarga, tetangga, dan kenalan Maisya.
Hari H semakin dekat. Persiapan juga semakin matang. Aku terharu lagi ketika ditanya,
“Akhi siapnya ngasih berapa untuk persiapan ini? Tapi jangan merasa berat dan terpaksa, kalau tidak ada ya nggak apa-apa.” Aku hanya bisa tergagap menjawabnya. Ku katakan bahwa aku akan mendapat sumbangan dari kantorku tapi perlu proses untuk cair, jadi sementara aku hanya bisa beri sedikit. Itu pun sudah kupaksakan pinjam ke sana-sini.
Tapi Maisya menyambut hal itu dengan tanpa cemberut sedikitpun. Subhanallah.
Panitia pernikahan dari ikhwan sudah aku siapkan. Aku bertekad bahwa pernikahan ini harus seislami mungkin, di antaranya memisahkan antara tamu pria dan wanita walau mungkin akan mendapatkan respon yang bermacam-macam. Aku tak peduli.
Keluarga Maisya pun tak tinggal diam. Di antara mereka ada yang memintaku agar busana Maisya pada saat penikahan nanti adalah busana pengantin pada umumnya. Astaghfirullah, usulan yang sangat berlumuran dosa. Jelas kutolak mentah-mentah.
Ada juga yang nyeletuk agar pernikahan kami dihibur dengan orkes atau musik gambus dan yang sejenisnya. Tapi itu pun aku tolak. Ternyata sampai mendekati hari H pun aku harus beradu urat syaraf dengan mereka.
Tibalah saatnya kegelisahanku yang paling dalam. Aku sedang berpikir bagaimana jadinya jika ada yang mengacaukan pernikahanku. Aku punya seorang saudara marinir. Aku telepon dia dan kuwajibkan datang. Kalau perlu pakai seragam resmi lengkap. Aku akan jadikan dia sebagai pengamanan tambahan. Karena pengamanan Allah lebih kuat, bahkan tidak perlu ada pengamanan tambahan. Itu hanya ikhtiar saja. Malam hari “H” dia datang dan siap menghadiri acara nikah besoknya.
Aku minta bantuan teman lamaku untuk mengantarku pakai Kijang. Teman senior kantorku yang sudah aku anggap orang tuaku juga siap mengantar pakai Panther, bahkan dialah yang akan memberi sambutan dari pihak mempelai pria.
Dengan sedikit gemetar dan mata sedikit basah, aku lalui proses ijab kabul yang sederhana tanpa disertai ritual-ritual yang tidak ada dasarnya seperti sungkem, injak telor, membasuh kaki, dan sebagainya.
Tangisku meledak ketika berdua dengan Maisya untuk pertama kalinya. Tangis makin dahsyat saat aku menghadap ibuku. Kupeluk erat-erat ibuku, kakakku, dan saudara yang mendampingiku.
Subhanallah, aku sudah menjadi seorang suami. Aku menjadi kepala keluarga yang didampingi oleh Maisya yang aku dapatkan dengan “darah dan air mata”. Akhirnya kulalui rumah tangga ini dengan segala bunga rampainya sampai dikaruniai beberapa anak yang lucu-lucu. Semoga dapat aku lalui kehidupan ini dengan diiringi bimbingan dari yang Maha membolak balikkan hati, sehingga hatiku tetap teguh dengan agama-Nya
Selanjutnya

Nenek Penjual Daun Jati (Cerpen)

“Kang... nglamun aja, ada apa sih?” tanya Bikul teman sekampungku.
“Ah nggak kul, ini pisang gorengnya enak banget” kataku menjawab sekenanya.
“Baru digigit sedikit saja masak kang Amin ini sudah merasa enak?” katanya lagi seperti tak yakin dengan jawabanku tadi.
“Aku kan ahli kuliner kayak di TV kul, jadi sedikit gigit saja aku tau makanan itu enak apa tidak” jawabku lagi.
“Kemarin juga jawab gitu waktu kita makan nasi agak basi sisa kondangan, ah kang Amin ini ada saja, hahaha..” tiba-tiba tawanya pecah. Akupun dibuat malu dengan alasannya barusan.
Ya dia teman sekampungku, Shobikul namanya, yang datang kesini 2 tahun lalu, kami dari sebuah desa tertinggal di daerah Kabupaten Tuban yang terpaksa harus datang ke Gresik ini untuk bekerja sekenanya saja, demi mendapatkan upah yang lebih layak dibandingkan di daerah kami yang bisa dibilang jauh lebih sedikit dari yang kami terima disini.
Aku datang ke sebuah desa di Gresik ini yang bisa dibilang cukup bagus dibandingkan desaku kurang lebih 5 tahun lalu, semua terjadi karena pertengkaran kaluarga untuk memperebutkan warisan Bapak kami yang wafat setahun sebelumnya, warisan itu berupa 4 petak sawah ukuran kecil, sedangkan kami 5 bersaudara. Aku adalah anak ke lima, oleh kakak-kakakku aku diseruh mengalah untuk tidak memdapatkan bagian apapun, alasan mereka karena aku belum berkeluarga jadi tidak punya tanggungan apa-apa. Jika dipikirkan alasan mereka memang benar, tapi aku kan kelak kemungkinan pasti menikah, tapi tetap saja mereka bersikeras agar aku mengalah.
“Nanti saja kalau kamu menikah, kami kasih bagian, sekarang cari jodoh dulu, tapi jangan lama-lama, kalu 2 tahun kamu belum mendapatkan calon istri, kami pastikan kamu tidak akan mendapatkan apa-apa dari kami”. Kakakku tertua Ahmad Sabar menjelaskan setengah mengancam.
            Jawaban kang Ahmad Sabar inilah yang membuatku kecewa, aku tak menyangka kehidupan susah yang kami alami sejak kecil, tidak cukup membuat kakak-kakaku belas kasihan pada adiknya sendiri, sejak itulah aku pergi ke Gresik ini untuk meyambung hidup, bahkan saking kecewanya sampai saat ini aku tidak pernah ingin pulang kembali lagi ke desa di Tuban sana, jika rindu aku hanya melamun saja seperti pagi ini.
            Namun lamunanku kali ini bukan karena membayangkan desaku yang selalu kurindukan, aku terbayang wajah nenek yang terjatuh tepat di depan rumah kontrakan kami sebulan lalu, dia terpeleset saat hujan deras sedangkan di punggungnya dia membawa dua ikat besar daun jati sepelukan 2 pria dewasa, kasihan sekali nenek itu pikrku, tanpa pikir panjang langsung saja aku menghampirinya untuk menolongnya, padahal baru saja aku selesai Sholat Ashar sehabis mandi dari pulang kerja tadi.
“Nenek tidak apa-apa nek?” tanyaku.
Tapi dia tidak menjawab dan cuma menggeleng tanda tak ada apa-apa.
Setelah selesai diapun pergi sambil mengucapkan satu kata “terimakasih”.
“ Ketus amat nenek itu” pikirku, Lalu aku kembali masuk ke rumah dan berganti baju.
Beberapa hari berikutnya aku melihat nenek itu lagi, sama seperti kemarin waktunya sepulang aku kerja. Hari-hari berikutnya, tepatnya setiap dua hari sekali aku selau melihatnya lewat di depan rumah kami, tapi yang paling membuatku penasaran kenapa setiap berjumpa dengan siapapun nenek itu tidak pernah tersenyum, dalam setiap perjalannya membawa dua ikat besar daun jati cuma menatap tajam ke depan, tidak menyapa atau berbasa-basi dengan siapapun yang dijumpainya di jalan.
            Suatu sore selepas magrib aku mencoba berjalan-jalan dengan harapan bertemu dengan nenek pembawa daun jati itu, tapi sayangnya sampai setelah selesai ikut sholat isya’ di masjid desa aku tidak menjumpainya, akhirnya aku putuskan untuk bertanya-tanya.
“Pak, disini yang biasanya jualan daun jati siapa sih pak?” tanyaku pada seorang bapak di masjid ini.
“Kenapa Min, kok tumben kamu nanya orang tua itu? Bukannya lebih baik nanya para gadis untuk kamu nikahi?” kata bapak itu membuatku malu.
“Nggak pak, cuma ingin tau saja” jawabku lagi.
“Ya tapi untuk apa sih Min? Dia kan tidak punya anak untuk kamu nikahi”.
Kali ini aku diam karena tidak tau harus menjawab apa.
“Tapi kasian juga dia hidup sendiri sejak suaminya meninggal karena sakit beberapa tahun lalu” jawabnya lagi.
“Sebentar pak, yang bapak maksud seorang nenek kurus atau ada orang lain selain dia?” tanyaku penasaran.
“Siapa lagi min, ya memang nenek itu, Khodijah namanya” jawab bapak ini membuatku senang karena merasa sedikit mendapat jawaban atas rasa penasaranku selama ini.
“Memang kenapa sih, kamu kok pingin tau banget nek Khodijah min?” tanyanya lagi.
Demi menghilangkan kecurigaan bapak-bapak yang kebetulan mendengarkan pembicaraan kami di serambi masjid itu, aku ceritakan saja kejadian yang menimpa nek Khodijah di depan rumah kami waktu itu.
“Tinggalnya dimana sih pak?” tanyaku lagi.
“Lho kok sekarang tanya rumah segala? Oh, kamu mau ngasih makanan atau bantuan ke dia ya”? jawab Bapak itu.
“Percuma min, sejak dulu dia tidak pernah mau menerima pemberian apapun, dari siapapun, kami warga desa ini sampai heran kenapa dia begitu, tapi itulah dia, dan sejak kematian suaminya dia tinggal di sebuah gubuk dipinggir desa dekat hutan jati di utara sana” katanya sambil menunjuk arah utara.
Pembicaraan inipun kami akhiri karena tak terasa jam di dinding serambi masjid sudah menunjukkan pukul 21.00.
Hampir setiap pagi sebelum kerja, seperti biasanya kami ngopi dulu di warung kopi dekat rumah kontrakan kami, aku selalu terbayang dengan sikap nek Khodijah, penasaran akan sikapnya yang bersahaja namun tidak mau “tersentuh” orang lain dalam hal apapun. Dia bekerja sendiri dan mengurus keperluannya sendiri, “kenapa dengan nek Khodijah ini” kata hatiku semakin penasaran.
Terdorong rasa ingin tau, malam ini selepas sholat isya’ di masjid, aku putuskan untuk mencari rumah atau gubuk nek Khodijah di pinggir desa dekat hutan jati itu, akupun pergi kesana.
Benar saja dikejauhan aku melihat sebuah gubuk bambu dengan pintu tertutup, hanya ada dua lampu listrik disana, satu di depan gubuk dan yang satu lagi didalamnya. Kalau bisa dibilang ini bukan tempat tinggal manusia karena tidak layak, tapi lebih cocok kandang hewan peliharaan seperti sapi atau kambing. Namun mendadak aku terkesiap, samar-samar aku mendengar suara wanita mengaji dari dalam gubuk itu, demi meyakinkan hatiku akan apa yang kudengar barusan,  Benar saja ternyata suara merdu nan fasih itu adalah suara nek Khodijah sendiri, Subhanalloh pikirku.
            Sekarang rasa penasaranku semakin menggunung, seorang nenek yang sangat mandiri, tidak tersentuh orang lain, namun ternyata pandai mengaji, fasih lagi, jauh mengalahkan kemampuanku mengaji yang hanya asal jalan saja. Masyaalloh kenapa nek Khodijah seolah memenjarakan dirinya dari orang lain padahal dia tergolong orang fakir, yang semestinya membutuhkan bantuan orang lain, namun tidak dilakukannya bahkan ditolaknya.
Daripada aku hanya penasaran, malam berikutnya kembali dikesempatan selepas sholat Isya’ aku bertanya-tanya pada Bapak yang kemarin menjelaskan  padaku tetang nek Khodijah.
“Nek Khodijah ternyata pandai mengaji ya pak?” kataku memulai.
“Lho kamu kok tau min?” jawab bapak itu yang belakangan ku ketahui namanya pak Thoha.
“Nggih pak, kebetulan kemarin saya jalan-jalan dan mendengar nek Khodijah sedang mengaji” jawabku singkat.
“Eee..” jawab pak Thoha sambil manggut-manggut, lalu melanjutkan: ...
“Tidak hanya itu min, dulu dia sering ngajar Sholawatan anak-anak kecil di masjid ini, termasuk anakku yang sekarang sudah seumuran kamu, merdu sekali suara nek Khodijah” kulihat wajahnya sedikit tersenyum seolah menyimpan ketakjuban pada kemampuan nek Khodijah.
“Walau sempat mengajar dan berandil besar mengkoordinir pengajian dan sholawatan di desa ini dulu, tapi dia adalah orang yang sangat sederhana, segera setelah selesai kegiatan sholawatan atau mengaji, dia pasti langsung pulang tanpa mau menerima sedikit upah atau apapun dari pengurus masjid, sebagaimana biasanya pengurus masjid memberikan upah atau kue-kue ala kadarnya sebagai tanda terimakasih kepada para pengajar ngaji atau sholawatan di masjid ini”.
Setelah menghela nafasnya pak Thoha melanjutkan lagi:
“Herannya lagi kalau ada acara besar di masjid ini,kalau makan kue cuma dimakannya satu, kalau makan nasi cuma sekedarnya dan selalu menolak jika diberi nasi berkat” sambung pak Thoha.
“Begitu itu min, dia sama saja dengan mendiang suaminya, mereka pasangan sederhana yang cocok dan kompak satu sama lain” katanya lagi.
Wah baru kali ini aku mendengar bahkan pernah menjumpai orang yang hidup sangat sederhana, menjauh dari pergaulan masyarakat tapi tidak mau mengharap belas kasihan masyarakat, pikirku dalam hati.
“Lalu kenapa nek Khodijah melakukan itu semua pak, apalagi harus tinggal sendiri di gubuk bambu itu” tanyaku.
“Itulah yang tidak kami pahami dari nek Khodijah min, dia tidak pernah mengeluh bahkan kalau butuh bantuan, hanya untuk perkerjaan yang dia benar-benar tidak mampu melakukannya, hebatnya lagi diapun tetap memberi upah sebagaimana layaknya orang kebanyakan”.
“Walaupun dia tidak mampu, tapi dia loman sekali min, suka bershodaqoh pada masjid ini dan pada anak kecil yang kebetulan lewat di sekitar rumahnya”.
“Ohya satu lagi, setiap dia mendapatkan uang dari menjual daun jatinya tadi, dia selalu memberikan separuh pada pak mandor penjaga hutan jati, walaupun berkali-keli ditolak, tapi dia bersikeras untuk memberi, katanya dia numpang hidup maka harus tetap memberi pada pemerintah yang diwakili oleh pak mandor tadi”.
Masyaalloh.. Mulia sekali hati nek Khodijah, seketika itu juga aku menyesal atas ucapanku sekitar dua minggu lalu yang sempat mengatainya Ketus, saat itu juga aku putuskan untuk menemui nek Khodijah untuk meminta maaf atas kekurang sopananku padanya, sekaligus agar aku lebih tau lagi siapa sebenarnya nek Khodijah ini langsung dari beliau sendiri. Maka setelah berbasa basi dan berterimakasih akupun berpamitan pada pak Thoha dengan alasan ingin pulang karena sudah larut, aku bergegas menuju rumah nek Khodijah malam itu juga.
 kemarin sayup-sayup kudengar suara nek Khodijah sedang mengaji, suaranya merdu, bacaannya fasih dan tartil, nikmat sekali mendengarnya.. namun tiba-tiba suara nek Khodijah terhenti entah kenapa, atau nek Khodijah memang sudah selesai mengajinya.
“Nah ini kesempatanku menemui beliau” ucapku lirih.
Namun samar-samar kembali kudengar nek Khodijah melantunkan beberapa ayat suci Al-Qur’an dan melanjutkan dengan suara yang lirih dia berdoa:
“Ya Alloh..ampuni hamba-Mu yang hina ini”
“Lindungilah aku dari segala penyakit hati yang dapat merusak amal ibadahku nan sedikit”
Aku terpancing dengan doa indahnya ini maka kuberanikan diri melangkah ke samping rumahnya agar lebih jelas mendengarkan doanya:
“Terimakasih Ya Alloh.. Aku tidak peduli pada siapapun ”
“Karena aku hanya takut padamu, tidak pada apapun”.
“Biarlah aku dibenci, aku tidak ingin membenci mereka”
“Karena tidak ada yang lebih ku khawatirkan selain takut Engkau membenciku”
“Akupun tidak ingin dipuji karena aku tidak memerlukannya”
“Bagiku akan lebih berarti andai aku mendapat Cinta dan Ridlo-Mu”
“Tidak pantas aku banyak memohon pada-Mu karena banyaknya dosaku”
“Namun pada siapa lagi aku mengadu ya Alloh..”
“Engkaulah harapanku.. dalam hidup dan matiku”
“Amiin..” ucapnya mengakhiri doanya.
Mendadak sekujur tubuhku bagai tersambar petir, aku lemas tak berdaya karena doanya tadi, Doa-doa yang indah dibalik suara yang lirih menggambarkan Wanita sederhana tidak mau mengharap apapun dari manusia tapi hanya dari Tuhannya..Tidak takut pada apapun hanya takut pada-Nya.. Subhanalloh, sungguh manusia dengan Tawakkal luar biasa, yang mungkin didapat dalam waktu singkat.
Entah berapa lama aku masih mematung tak berani melangkah entah akan pulang atau menemui nek Khodijah, namun bebetapa saat kemudian kulihat lampu bagian dalam gubuknya mati mungkin nek Khodijah akan segera tidur malam, akhirnya aku putuskan untuk pulang.
            Sambil terus berusaha menenangkan fikiran dan persaanku yang tadinya kacau, akupun melangkah meninggalkan pagar bambu gubuk nek Khodijah, sungguh doa-doanya tadi terus mendesak masuk ke telinga menancap kuat di otak dan hatiku, jadi inikah maksud nek Khodijah meninggalkan keramaian dan hiruk pikuk masyarakat luas, lebih memilih menetap disamping hutan jati yang sepi dan gelap, hanya untuk mengasah kedekatan kepada Alloh SWT tanpa takut dan khawatir pada apapun, dan tidak mau menyusahkan orang lain. Pantas saja sikapnya pada orang lain seperti itu, karena dia sama sekali tak takut dibenci juga tak ingin dipuji. Luar biasa nek Khodijah… 
Selanjutnya

Maniak Internet (Cerpen)

“Ardan…! Makan dulu!” seru Ibu dari bawah. “Sebentar lagi bu. Lagi ada yang chatting-ngan sama Ardan!” seru Ardan lagi. Ardan adalah orang yang maniak internet. Sejak Ayahnya membeli komputer, Ardan terus bermain internet.
“Ardan… bilang sama yang chatting sama kamu kamu mau makan” kata ibu.
“Nanti jadi offline, bu. Lagi asyik nih ceritanya” jawab Ardan.
“Lauknya kan Udang goreng dan Nasi goreng spesial kesukaanmu. Nanti kami habisin” kata ibu dengan nada agak tinggi.
“Huuuh… Ibu ini” kata Ardan manggerutu.
Ardan pun turun. Mukanya cemberut. Setelah puas dan kenyang Ardan kembali ke komputer. Ia berchatting dengan Aldo, sahabatnya. Beginilah percakapan mereka.
Ardan Kirentio : Maaf ya tadi. Kamu jadi menunggu. Ibuku memang cerewet.
Muhammad Aldo : Tak apa apa. Kamu sudah siap Pr MTK?
Ardan Kirentio : Nanti saja.
Dan seterusnya…
Setelah chatting dengan Aldo, Ardan main game “Angry Birds”. Tak terasa sudah pukul 22.00. Ardan tidur. Padahal, dia belum ambil jadwal untuk besok dan belum kerjakan pr.
Besoknya, Ardan terlambat. Ia tak makan, tak mandi, tak bawa buku, dan tak kerjakan pr tentunya. Ia dihukum di sekolah. Ia harus berdiri di depan kelas sambil berkata “SAYA BERJANJI AKAN LEBIH DISIPLIN LAGI” sampai 1 les selesai. Semua temannya menjauhinya. Begitu juga dengan Aldo. Sejak itu, Ardan menjadi anak yang disiplin dan teladan. Nasihatnya adalah “Jangan kita selalu bermain apa pun itu. Karna itu membuat kita tidak disiplin”
Selanjutnya

Hancurnya Sebuah Harapan (Cerpen)


Sebuah persahabatan yang ku jalani ini cukup bahagia, ku tak bisa lupakanya. Meski mungkin sebentar lagi kita akan berpisah. Dan mungkin janji kita sekarang dan nanti masih berlaku, namun setelah beberapa lama dan telah nyaman dengan teman baru, janji itu hanya akan menjadi janji belaka.

Sebuah harapanku sebelum kita berpisah, aku ingin kita membuat sebuah kenangan yang mungkin tidak akan pernah hilang. Aku ingin mencoba mencapai kesuksesan bersama sahabat-sahabatku. Namun apa daya, tidak semua orang tua kami mengizinkan untuk meluangkan waktu di luar sekolah bagi kami untuk latihan.

Aku sungguh berharap, rencana, angan-angan, harapan ini akan terjadi dan kita sukses tanpa bantuan siapapun, tetapi hanya dengan modal seadanya dan usaha yang keras. Tetapi harapan kita terhalangin dengan tidak di izinkanya oleh orang tua. Apa harus harapan ini hancur hanya karna orang tua yang melarang? Sedih hatiku menerima kenyataan inii, sungguh sakit hatiku menelan kenyataan pahit ini.

Baru saja di hari ini kami bahagia, meski sedikit sedih karena salah satu sahabat kita tidak bisa datang dan kumpul bersama di karenakan sakit. Dan aku sungguh tidak menyangka, di hari ini, di saat salah satu teman kita tidak hadir, dan di situ pula akhir dari semua harapan yang telah kita bangun bersama demi mencapai keberhasilan yang utuh dan abadi.

Semua telah berakhir disini, sekarang kita hanya bisa bersabar menghadapinya, semoga di lain hari dan waktu, akan ada keajaiban yang datang, yang dapat membuat kita menyusun kembali kepingan-kepingan harapan yang telah hancur berkepeing-keping...

Selamat tinggal harapanku, semoga ada hikmah dibalik semua ini. Semoga kami akan menemukan sebuah harapan yang lebih baik untuk kita semua. Atau ada keajaiban datang utuk menumbuhkan kembali harapan-harapan yang telah hancur, dan takan ada lagi halangan yang menimpa. Amin.
Selanjutnya

Pengalaman (Cerpen)

Di sebuah taman, terdapat taman bunga mawar yang sedang berbunga. Mawar-mawar itu mengeluarkan aroma yang sangat harum. Dengan warna-warni yang cantik, banyak orang yang berhenti untuk memuji sang mawar. Tidak sedikit pengunjung taman meluangkan waktu untuk berfoto di depan atau di samping taman mawar. Bunga mawar memang memiliki daya tarik yang menawan, semua orang suka mawar, itulah salah satu lambang cinta.

Sementara itu, di sisi lain taman, ada sekelompok pohon bambu yang tampak membosankan. Dari hari ke hari, bentuk pohon bambu yang begitu saja, tidak ada bunga yang mekar atau aroma wangi yang disukai banyak orang. Tidak ada orang yang memuji pohon bambu. Tidak ada orang yang mau berfoto di samping pohon bambu. Maka tak heran jika pohon bambu selalu cemburu saat melihat taman mawar dikerumuni banyak orang.

"Hai bunga mawar," ujar sang bambu pada suatu hari. "Tahukah kau, aku selalu ingin sepertimu. Berbunga dengan indah, memiliki aroma yang harum, selalu dipuji cantik dan menjadi saksi cinta manusia yang indah," lanjut sang bambu dengan nada sedih.

Mawar yang mendengar hal itu tersenyum, "Terima kasih atas pujian dan kejujuranmu, bambu,” ujarnya. “Tapi tahukah kau, aku sebenarnya iri denganmu,"

Sang bambu keheranan, dia tidak tahu apa yang membuat mawar iri dengannya. Tidak ada satupun bagian dari bambu yang lebih indah dari mawar. "Aneh sekali, mengapa kau iri denganku?"

"Tentu saja aku iri denganmu. Coba lihat, kau punya batang yang sangat kuat, saat badai datang, kau tetap bertahan, tidak goyah sedikitpun," ujar sang mawar. "Sedangkan aku dan teman-temanku, kami sangat rapuh, kena angin sedikit saja, kelopak kami akan lepas, hidup kami sangat singkat," tambah sang mawar dengan nada sedih.

Bambu baru sadar bahwa dia punya kekuatan. Kekuatan yang dia anggap biasa saja ternyata bisa mengagumkan di mata sang mawar. "Tapi mawar, kamu selalu dicari orang. Kamu selalu menjadi hiasan rumah yang cantik, atau menjadi hiasan rambut para gadis,"

Sang mawar kembali tersenyum, “Kamu benar bambu, aku sering dipakai sebagai hiasan dan dicari orang, tapi tahukah kamu, aku akan layu beberapa hari kemudian, tidak seperti kamu,”

Bambu kembali bingung, "Aku tidak mengerti,"

"Ah bambu.." ujar mawar sambil menggeleng, "Kamu tahu, manusia sering menggunakan dirimu sebagai alat untuk mengalirkan air. Kamu sangat berguna bagi tumbuhan yang lain. Dengan air yang mengalir pada tubuhmu, kamu menghidupkan banyak tanaman," lanjut sang mawar. "Aku jadi heran, dengan manfaat sebesar itu, seharusnya kamu bahagia, bukan iri padaku,"

Bambu mengangguk, dia baru sadar bahwa selama ini, dia telah bermanfaat untuk tanaman lain. Walaupun pujian itu lebih sering ditujukan untuk mawar, sesungguhnya bambu juga memiliki manfaat yang tidak kalah dengan bunga cantik itu. Sejak percakapan dengan mawar, sang bambu tidak lagi merenungi nasibnya, dia senang mengetahui kekuatan dan manfaat yang bisa diberikan untuk makhluk lain.

Daripada menghabiskan tenaga dengan iri pada orang lain, lebih baik bersyukur atas kemampuan diri sendiri, apalagi jika berguna untuk orang lain.

Selanjutnya

Rasa (Cerpen)

MEMANDANGI koran, melahap foto doktor termuda Indonesia I Gusti Ayu Diah Werdhi Srikandi WS, 27 tahun, mataku tidak berkedip.”Cantik, badannya bagus, senyumnya mempesona,” gumanku memuji. ”Kalauaku masih muda, aku akan datang kepadamu dan langsung melamar.”
Ami yang sejak tadi di belakangku nyeletuk, ”Begitu ya? Bagaimana kalau ditolak?”Aku mengangguk.
”Ditolak, diusir, bahkan diinjek-injek pun aku masih senang. Aku kagum di Indonesia ini masih ada perempuan yang belum kepala 3 sudah jadi doktor. Sudah jadi bintang di malam gelap bagi pelaut yang sesat. Gila!”
Aku menunggu reaksi Ami. Tapi Ami diam saja. Ia mengambil koran dari tanganku..
”Seorang wanita adalah sebuah cahaya,” kataku selanjutnya menggembungkan pujian, ”Hanya cahaya yang bisa membuat negeri ini bangkit dari kegelapan. Begitulah arti kehadiran perempuan. Jadi bukan hanya memikirkan mobil, rumah mewah dan duit untuk berfoya-foya, tetapi membangun negeri. Mengembalikan kembali greget para pemimpin negara yang sudah bangkrut moralnya seperti sekarang. Jadi banggalah menjadi perempuan, Ami!”

Tak ada jawaban. Waktu kutoleh ternyata Ami sudah masuk ke dalam kamar.
”Anakmu selalu begitu!” protesku kemudian kepada ibunya.
”Habis Bapak sih tidak punya perasaan!”
”Tidak punya perasaan bagaimana?”
Masak memuji perempuan di depan anak perempuan satu-satunya?”
”Lho kenapa? Apa salahnya? Ami sudah besar. Dia harus bisa menerima kenyataan!”
”Tidak semua kenyataan harus dipujikan di depan anak!”
Aku tidak menjawab. Bukan karena tidak punya jawaban. Karena istriku terus ngomel. Baru setelah kembali sendirian, aku muring-muring.
”Aneh! Aku tidak mengerti! Ini rumahku. Masak aku tidak boleh memuji kalau memang ada orang cantik yang pintar. Biasanya orang cantik kan bodoh. Atau meskipun banyak perempuan yang pintar, tapi jarang yang cantik. Karena kecantikan dan kepintaran seperti air dan minyak, sulit digabung. Itu fakta! Boleh tidak suka, tapi itulah realita!”
Sepanjang malam aku jengkel. Baru surut esok paginya setelah Ami ternyata tidak nampak sarapan. Pintu kamarnya terkunci. Berarti ia bolos ke kampus.
”Anakmu kenapa, Bu?”
”Pasti sakit!”
Aku tak percaya. Aku ketuk pintu kamar Ami, pura-pura menanyakan, apa dia perlu kuantar ke puskesmas. Tapi tidak ada jawaban. Ya, orang sakit atau hanya pura-pura sakit sama saja. Mereka tidak akan mau menjawab kalau ditanya. Aku cepat pergi ke apotek dan membeli obat maag.
”Siapa yang sakit Pak Amat?” sapa tukang warung. Aku terpaksa singgah sambil curhat.
”Pak Iskan, situ juga punya anak gadis kan?”
”Betul Pak, tapi anak saya putus sekolahnya di SMA. Putri Bapak saya dengar sudah hampir lulus sarjana?”
”Ya. Tapi kelakuannya makin kekanak-kanakan. Masak bapaknya memuji perempuan cantik dia tersinggung. Apa hubungannya?!”
Tukang warung itu, ketawa.
Kok pakai memuji orang lain, putri Pak Amat kan cantik dan pintarnya bukan main?”
Aku tertegun.
”Kuman di seberang lautan nampak, gajah di pelupuk mata tidak kelihatan, Pak!”
Aku kontan tertawa. Tapi sebenarnya jantungku terpukul. Setelah beli tablet kunyah untuk maag, aku bergegas pulang. Ternyata pintu kamar Ami sudah terbuka. Hanya saja waktu aku masuk, kosong. Aku langsung ke dapur.
”Ami mana Bu?”
”Ke rumah temannya. Kenapa?”
Lho, bukannya sakit?”
”Katanya sudah baikan.”
Aku manggut-manggut. Aku taruh obat maag itu di atas meja belajar Ami. Koran berisi foto doktor termuda itu tergeletak di atas buku-buku Ami. Seakan-akan sengaja dipamerkan untuk aku yang akan melihatnya. Langsung saja aku ungsikan, supaya jangan memicu persoalan lebih jauh.
Menjelang makan malam, ternyata Ami belum pulang. Aku mulai was-was.
Kok Ami belum pulang, Bu?”
”Ya kan belajar di rumah temannya!”
”Tapi ini sudah malam.”
”Ya nggak apa, Ami sudah bawa salin.”
”O ya? Menginap di ruman teman?”
”Memang.”
”Kenapa?”
Istriku membentak. ”Ya, belajar!”
Aku sudah biasa dibentak istri. Jadi tidak kaget. Tapi hanya Tuhan yang tahu, bagaimana perasaan seorang bapak kalau anak perawannya larut malam belum pulang.
”Sakit kok belajar di rumah teman. Mestinya temannya yang kemari. Aku susul saja ya?!”
”Jangan! Memang kenapa?!”
Masak anak gadis nginap di rumah teman?”
”Apa salahnya? Memangnya zaman Sitti Nurbaya? Ami itu bukan anak-anak lagi Pak. Dia sudah bisa mandiri. Biar saja belajar di situ supaya dapat nilai A plus, nanti kan bisa jadi doktor.”
Aku terhenyak. Satu jam aku mondar-mandir dikili-kili perasaan. Sudah jelas sekarang, Ami ke rumah temannya untuk melarikan perasaannya yang tersinggung.
Aku sudah menyakiti dia. Dan penyesalan selalu terlambat. Aku jadi sebal, kenapa masih membiarkan diri alpa. Kenapa aku tidak peka. Aku tidak pernah lupa Ami bukan anak kecil lagi tapi perempuan dewasa. Kenapa aku selalu memperlakukannya sebagai anak-anak yang harus selalu dilindungi?
Tengah malam.
Aku tak bisa lagi mengendalikan perasaan. Diam-diam aku pergi menjemput. Tapi di jalan aku baru sadar, sebenarnya aku belum tahu Ami menginap di rumah temannya yang mana. Terpaksa aku kembali, celakanya istriku sudah tidur. Nampaknya begitu pulas sehingga aku tidak sampai hati membangunkan. Lagi pula buat apa membangunkan macan tidur.
Akhirnya aku terpaksa menebak-nebak. Lalu memutuskan pergi ke rumah Rani. Dugaanku tepat. Ami sedang belajar dengan Rani. Ia kaget melihat bapaknya datang.
”Ngapain ke mari Pak?”
”Mau jemput kamu.”
”Ami belum selesai belajar.”
”Tapi ibu kamu sakit!”
Ami terkejut. Matanya langsung berkaca-kaca seperti mau menangis. Aku jadi iri. Aku yakin mata itu tak akan mengucurkan air kalau yang sakit itu bapaknya. Tapi sudahlah. Biar saja. Itu memang nasib seorang bapak. Dan aku tidak pernah menyesal jadi seorang bapak.
Ami buru-buru mengemasi buku-buku dan menyambar tas gendongnya.
”Sakit apa? Sudah dibawa ke puskesmas.”
”Tenang! Nanti Bapak ceritakan.”
Dalam perjalanan pulang, Ami mendesak terus apa sakit ibunya. Aku terpaksa berterus-terang. Lalu blak-blakan minta maaf. Ami bingung.
”Bapak kok minta maaf sama aku?”
”Ya. Harus!”
”Kenapa?”
”Aku salah!”
”Apa salah Bapak?”
”Bapakmu ini sudah manula Ami. Bapak sudah kena biasan pendidikan kolonial, jadi kuno. Bapak minta maaf sebab bapak sudah menyinggung perasaanmu. Bukan maksud Bapak untuk menyindir. Sama sekali bukan. Seperti kata pepatah, burung terbang di langit dicari, burung di tangan dilepaskan. Kuman di seberang lautan nampak, gajah di pelupuk mata tidak kelihatan. Bapak minta maaf.”
Ami tertawa.
”Kamu jangan menertawakan orang yang minta maaf.”
”Sama sekali tidak. Tapi Bapak salah alamat.”
”Salah alamat bagaimana?”
”Bapak menyangka saya sudah tersinggung?”
”Ya. Kamu sebenarnya tidak sakit dan tidak sedang belajar. Kamu pasti hanya muak pada kelakuan Bapak yang kurang menghargai kamu. Bapakmu ini memang laki-laki kuno. Sudah ketinggalan sepur. Dulu orang tua untuk merangsang anaknya maju biasanya dengan cara membanding-bandingkan. Kata Pak Iskan tukang warung itu, sebaliknya daripada silau oleh kehebatan orang lain, harusnya Bapak bangga pada kamu, sebab kamu cantik dan pintar, Ami!”
Ami tertawa.
”Salah alamat, Pak!”
”Salah alamat bagaimana?”
”Yang tersinggung itu bukan Ami, tapi ibu.”
”Ah?”
”Ibu. Ibu yang menyuruh Ami jangan keluar kamar, jangan makan malam di meja makan dan pergi nginap belajar di rumah Rani.”
Aku terpesona.
”Jadi ibu kamu?”
”Ya!”
Aku bengong.
”Ya sudah kalau begitu, kamu kembali ke rumah Rani, belajar terus sampai pagi, supaya bisa jadi doktor! Kalau perlu nginap samalam lagi di situ. Biar Bapak pulang!”
”Tapi ibu?”
”Ibu kamu tidak tidak apa-apa. Bapakmu ini yang sakit!”
Ami tersenyum.
”Ayo Ami kita kembali ke rumah Rani.”
”Tidak usah!”
”Tapi kamu harus belajar supaya dapat A plus!”
”Ami sudah selesai ujian.”
”O ya? Jadi ngapain kamu di rumah Rani?”
”Di suruh ibu!”
Aku terhenyak lagi.
”Tadi sebelum Bapak datang, ibu menelepon. Kalau dijemput Bapak jangan mau!”
”O begitu?”
”Ya.”
”Tapi kenapa kamu mau Bapak bawa pulang?”
”Sebab Ami ingin Bapak cepat-cepat pulang dan langsung pulang, jangan pakai singgah di warung Pak Iskan lagi. Lihat itu ibu sudah menunggu.”
Ami menunjuk ke rumah. Ternyata istriku, bukan tidur pulas seperti kukira, tapi dia menunggu di teras rumah.
”Bapak harus bersyukur. Bapak punya seorang istri yang menyayangi Bapak seperti itu. Tapi ibu memang tidak suka menunjukkan perasaannya itu, karena dia terdidik untuk menyimpannya. Tidak seperti Ami dan perempuan-perempuan sekarang yang memang harus berani mengutarakan perasaan, karena zaman sudah berubah. Bapak pulang saja, sudah ditunggu.”
”Kamu?”
”Saya kembali ke rumah Rani, sebab dia sudah menunggu. Itu dia!”
Ami menunjuk ke belakang. Aku terkejut. Rani di atas motor bebeknya ketawa sambil melambaikan tangannya di bawah bayang-bayang pohon. Perasaanku kacau. Aku malu. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Rasanya tak ada yang sudah kupelajari dalam kehidupan yang sudah ubanan ini. Aku kira aku sudah tahu banyak, tapi jangankan perasaan istriku, perasaan anakku juga aku tak tahu. Aku murid yang tak pernah naik kelas.
”Ayo Pak, cepat pulang, bawa ibu ke dalam, nanti dia masuk angin!”
Ami mendorongku pulang, lalu berbalik ke arah Rani. Dia naik ke boncengan Rani dan melambai.
”Besok saya nginap lagi semalam!”
”Jangan!”
”Itu perintah ibu!”
Ah? Apalagi itu. Motor telah berbelok dan lenyap di tikungan. Tinggal aku. Ketika aku menoleh, istriku juga sudah tidak ada lagi di teras. Mungkin dia tahu aku datang karena bunyi motor itu. Seperti anak muda yang baru kali pertama mengunjungi rumah pacarnya, aku melangkah pulang. Kenapa begitu banyak rahasia yang luput kutahu. Tetapi justru karena tak pernah benar-benar tahu itulah aku jadi terus ingin tahu dan mengejarnya. Goblok banget kalau selama ini aku merasa sendirian. Itu di situ, bukan hanya rumahku, tapi istriku menunggu. Bagaimana aku tidak akan mencintainya.
Selanjutnya
 

Like this

Cool Red Outer Glow Pointer
.